Tempat | Curug Sawer | ||||
Waktu | Hari | Selasa - Rabu | |||
Tanggal | 28 - 29 Januari 2025 | ||||
Jam | 06.00 - Selesai | ||||
Anggaran Biaya | Transportasi | 2 Unit Motor | |||
Simaksi | - | ||||
Parkir | 2 Motor x Rp10.000,00 = Rp20.000,00 | ||||
Perjalanan Kegiatan | Curug Sawer terletak di Kampung Cibeureum, Desa Mandalamekar, Kecamatan Jatiwaras, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Pada pukul 06.00 WIB, kami berkumpul di Kontrakan Bersama sebelum berangkat menuju Curug Sawer. Kegiatan explore ini diikuti oleh dua orang peserta yang terdiri atas satu orang Dewan Pengurus Harian (DPH) dan satu peserta umum. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa TLM yang ingin menikmati keindahan Curug Sawer bersama Rattle Snake. Perjalanan menuju Curug Sawer ditempuh melalui jalur Nagreg. Dalam perjalanan, kami sempat singgah untuk beristirahat di area Pom Bensin Gentong pada pukul 08.33 WIB guna melepas lelah sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah itu, perjalanan kembali dilanjutkan menuju Curug Sawer. Pada pukul 09.51 WIB, kami kembali berhenti sejenak untuk beristirahat di Indomaret/Alfamart Cibalong Banceuy, sekaligus mempersiapkan kondisi sebelum melanjutkan perjalanan menuju lokasi tujuan. Perjalanan dilanjutkan hingga kami tiba di area pemukiman warga pada pukul 11.26 WIB. Setibanya di lokasi, kami beristirahat sejenak sambil berbincang dengan warga setempat untuk mengetahui kondisi dan akses menuju Curug Sawer. Pada kawasan tersebut tidak terdapat tarif parkir resmi maupun penarikan tiket masuk, namun kami memberikan kontribusi sukarela sebesar Rp10.000,00 per orang sebagai bentuk apresiasi kepada warga setempat. Jalur menuju Curug Sawer cukup menantang karena didominasi oleh jalan berbatu serta harus melewati jembatan gantung, namun kami dapat melewati jalur tersebut dan tiba di lokasi dengan selamat. Trekking dimulai dengan menyusuri jalur yang relatif landai. Sepanjang perjalanan, kami hanya melewati beberapa rumah penduduk sehingga suasana terasa tenang dan jauh dari keramaian perkotaan, tercatat terdapat sekitar enam rumah di kawasan tersebut. Dalam perjalanan, kami bertemu dengan warga setempat dan berkesempatan bersosialisasi serta berdiskusi mengenai proses pembuatan nasi dari singkong yang dikenal sebagai oyek atau rasi. Warga setempat masih mengonsumsi rasi sebagai makanan pokok, yang diolah dari satu jenis tanaman untuk memenuhi satu porsi makan, dengan rasi sebagai pengganti nasi dan daun singkong sebagai lauk pendamping. Kami juga sempat ditawari untuk mencicipi hidangan tersebut lengkap dengan minuman air kelapa. Dalam kesempatan tersebut, kami diperkenalkan kepada beberapa warga, yaitu Abah, Emak, Mak Jumanah, dan Pak Asep. Dari berbagai obrolan bersama warga setempat, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah gubuk persawahan yang lokasinya tidak jauh dari Curug Sawer. Pada kondisi yang normal, estimasi waktu tempuh menuju curug sekitar 15 menit. Namun, karena kami terlebih dahulu bersosialisasi dengan warga dan beristirahat, kami baru tiba di Curug Sawer pada pukul 16.00 WIB. Setibanya di lokasi, kami beristirahat sambil menikmati suasana dan keindahan alam sekitar. Medan trekking menuju Curug Sawer tergolong ringan dan tidak memiliki banyak hambatan. Jalur yang dilalui berupa jalan setapak dari tanah liat, sebagaimana jalur pedesaan pada umumnya, sehingga relatif aman dan mudah dilalui. Sesampainya di Curug Sawer, kami menikmati keindahan alam sekitar dan langsung berenang di area curug. Airnya terasa sangat segar sehingga mampu menghilangkan rasa lelah setelah perjalanan. Untuk menghangatkan tubuh di tengah kondisi udara yang cukup dingin, kami juga membuat dan menikmati kopi bersama. Setelah merasa cukup puas menikmati keindahan Curug Sawer, kami kembali ke rumah warga untuk beristirahat dan bermalam sebelum melanjutkan perjalanan pulang keesokan harinya. Pada hari Rabu, 29 Januari 2025, kami berpamitan kepada warga setempat sebagai bentuk terima kasih atas izin serta kesempatan yang diberikan untuk belajar dan mengenal budaya setempat. Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan pulang dari Curug Sawer menuju Bandung dan tiba pada pukul 13.53 WIB tanpa melakukan pemberhentian untuk beristirahat di perjalanan. | ||||
Dokumentasi | |||||
Kita pernah lahir dengan tangis dan keringat yang sama, kita yang dibesarkan oleh pengalaman, kita yang ditempa oleh kesulitan, dan kita yang disatukan oleh tujuan. Dalam kesederhanaan dan keterbatasan, kita masih memiliki kekayaan persaudaraan. Kau tak perlu takut, kau hanya cukup katakan, "Yang kita butuhkan darah, keringat dan air mata untuk selalu bersama".
Rabu, 25 Februari 2026
Laporan Explore Curug Sawer
Jumat, 30 Januari 2026
Upaya Pencarian, Perolehan, dan Pengolahan Air Layak Konsumsi dalam Kondisi Darurat (Water Procurement)
Rabu, 28 Januari 2026
Laporan Perjalanan Explore Curug Bugbrug
Tempat | Curug Bugbrug | |
Waktu | Hari | Minggu |
Tanggal | 28 Juli 2024 | |
Jam | 11.00 - Selesai | |
Anggaran Biaya | Transportasi | 3 Unit Motor |
Simaksi | 6 x Rp10.000,00 = Rp60.000,00 | |
Parkir | 3 Motor x Rp5.000,00 = Rp15.000,00 | |
Perjalanan Kegiatan | Curug Bugbrug terletak di Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Lokasinya tersembunyi di tengah hutan yang rimbun dan berada di kawasan yang menawarkan udara sejuk serta pemandangan yang alami. Eksplor ini dilakukan oleh 6 orang anggota Rattle Snake yaitu Baren “Mangu”, Hilwa “Dali”, Dince “Kulen”, Rinda “Ceta”, Anin “Patok”, dan Putri “Ingu”. Pada pukul 11.00 WIB, kami berkumpul di titik kumpul awal yang berada di Kampus Teknologi Laboratorium Medis, tepatnya di Papan Panjat Rattle Snake. Setelah bersiap kami berangkat menuju ke Curug Bugbrug, dibutuhkan waktu sekitar 30 menit perjalanan menggunakan motor. Sampailah kami di area parkir Curug Bugbrug pukul 11.38 WIB dan diharuskan membayar biaya parkir sebesar Rp5.000,00 per motor. Untuk mencapai Curug Bugrug, kami menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit melalui jalur setapak yang cukup lebar untuk dilewati banyak orang. Di area Curug Bugbrug kami membayar simaksi sebesar Rp10.000,00 per satu orang agar dapat menikmati keindahan curug. Suara gemuruh air terjun yang menyejukkan serta pemandangan alam yang memukau menyambut kami yang baru datang. Curug Bugbrug ramai dikunjungi saat akhir pekan, namun kami tetap menikmatinya dengan beristirahat dan duduk santai sambil menyantap bekal makanan dan minuman yang dibawa. Beberapa dari kami duduk di samping air terjun sambil mengobrol dan merasakan segarnya percikan air terjun yang dingin. Sementara itu yang lainnya memilih duduk di bawah pohon sambil menyesap kopi dan makan cemilan. Tidak terasa sudah hampir dua jam kami menghabiskan waktu di sana. Setelah puas menikmati keindahan curug, kami berkemas dan mengabadikan momen dengan berfoto di depan air terjun. Kemudian kami beranjak pulang pukul 14.30 WIB dan tiba di Gunung Batu sekitar pukul 15.00 WIB. Perjalanan singkat yang penuh kenangan ini meninggalkan kesan indah bagi kami semua dan memberikan pengalaman baru menikmati alam Bandung Barat. | |
Dokumentasi | ||