Senin, 16 Juni 2025

Laporan Explore Curug Dago


Tempat

Curug Dago

Waktu

Hari

Sabtu

Tanggal

27 Januari 2024

Jam

09.00 - Selesai

Anggaran Biaya

Transportasi

3 unit motor

Simaksi

6 orang x Rp5.000,00 = Rp30.000,00

Parkir

3 motor x Rp5.000,00 = Rp15.000,00

Perjalanan Kegiatan

 


 

Curug Dago berlokasi di Desa Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Lokasi Curug Dago memang cukup tersembunyi karena berada di daerah Bukit Dago dalam kawasan Taman Hutan Raya di Jalan Ir H Djuanda. Simaksi untuk mengunjungi Curug Dago sebesar Rp5.000,00/orang dan parkir kendaraan dapat di warung sebelum menuju Curug Dago dengan biaya Rp5.000,00/motor. Fasilitas di Curug Dago sudah memadai dengan adanya tempat duduk, warung, toilet yang berada di dekat warung, dan pagar pembatas di area curug.

Awal titik kumpul kami yaitu di Masjid Istiqlal yang bertempat di jl. Babakan Loa dan estimasi waktu yang dibutuhkan untuk sampai di Curug Dago sekitar 1 jam perjalanan. Akses yang dilalui tidak dapat dilewati oleh mobil dikarenakan harus melalui gang terlebih dahulu. Setelah sampai kami harus membayar simaksi kepada Bapak pengelola Curug Dago dan biaya parkir kendaraan ke warung. Kemudian untuk mencapai tepat di Curug Dago kami tracking selama 5 menit dengan kondisi track yang sudah bagus disertai anak

tangga yang mengarah untuk turun.


 

Sesampainya di curug akan disambut dengan peninggalan Sultan Thailand pada zaman dahulu yaitu sebuah kuil dan batu besar di dalamnya. Air yang dimiliki Curug Dago akan terlihat kurang indah saat musim hujan karena akan berwarna coklat, tetapi saat pagi akan terlihat berwarna biru dan bersih. Aura di curug ini agak menyeramkan karena biasanya dipakai untuk persembahan, namun alamnya masih asri dan dapat dinikmati oleh pengunjung.

Curug Dago ramai saat di pagi hari dengan pengunjung yang suka bersepeda.

Dokumentasi


 

Penulis : Ghazi “Ala”

 

Editor : Aca “Skupi”

Sabtu, 14 Juni 2025

Pentingnya Manajemen Perjalanan Dalam Pendakian

Fungsi utama dari manajemen perjalanan pendakian ini adalah mengatur segala aspek yang berkaitan dengan perjalanan, mulai dari perencanaan biaya, perbekalan makanan, perlengkapan yang sesuai dengan medan dan cuaca, hingga kesiapan fisik pendaki. Selain itu, manajemen juga mencakup antisipasi terhadap risiko terburuk, seperti ketersediaan obat-obatan, alat komunikasi, serta penguasaan teknik bertahan hidup (survival), navigasi darat, pertolongan pertama gawat darurat (PPGD), dan sebagainya. Aspek lainnya yang tidak kalah penting adalah pengelolaan transportasi, perizinan, dan kebutuhan administratif lainnya.

Tahapan manajemen perjalanan ini dapat dibagi menjadi 3 tahapan, yaitu: 
1. Tahap persiapan
Langkah yang pertama adalah penentuan tujuan. Tujuan di sini terdapat dua bagian, yaitu tujuan umum (general goal) dan tujuan khusus (specific goal). Tujuan umum adalah tujuan perjalanan kita akan kemana. Selanjut nya ketika kita sudah memiliki tujuan, kita juga harus memikirkan tujuan cadangan. Yang gunanya ketika tujuan awal kita tidak bisa dilakukan dengan berbagai alasan. Selesai kita menentukan tujuan pendakian langkah berikutnya adalah memikirkan lama waktu perjalanan. Selanjutnya kita harus menginventarisir segala kebutuhan untuk perjalanan pendakian kali ini. Beberapa diantaranya adalah : 
- Team 
- Peralatan 
- Logistik atau konsumsi
- Obat-obatan
- Administrasi 
- Transportasi 
- Pembiayaan

2. Tahap pelaksanaan
 Tahap pelaksanaan dilakukan jika tahap persiapan sudah selesai. Tahap pelaksanaan adalah wujud dari realisasi tahap perencanaan. Segala yang sudah kita rencanakan secara matang kita laksanakan sesuai dengan prosedur yang kita buat. Dalam pelaksanaan perjalanan, jangan sekalipun melanggar apa yang sudah kita rencanakan. Kita bisa membuat aturan untuk diri kita sendiri, belajar disiplin dari diri kita sendiri. Lakukan perjalanan hanya sesuai dengan apa yang sudah direncanakan. Kecuali jika kondisi alam di lapangan menuntut yang berbeda.  Salah satu fungsi persiapan adalah untuk membuat prediksi-prediksi perubahan kondisi dimana kita harus membuat rencana cadangan untuk menghadapinya. Jika kita melakukan perjalanan yang sudah terencana dengan baik dan disiplin sesuai dengan perencanaan, maka tujuan perjalanan kita akan dengan mudah kita capai.

3. Tahap evaluasi
Tahap evaluasi dilakukan ketika perjalanan sudah selesai. Evaluasi bersifat sangat penting karena bisa digunakan untuk mengetahui segala kendala yang terjadi selama perjalanan dan digunakan untuk antisipasi pada perjalanan berikutnya. Dalam setiap aktifitas seharusnya ada pembelajaran. Pembelajaran bermanfaat untuk proses pendewasaan diri dan untuk memperbaiki aktifitas-aktifitas kita selanjutnya. Begitu pula dengan perjalanan pendakian.

Kegiatan mendaki gunung adalah aktivitas yang berisiko tinggi. Banyak insiden kecelakaan yang terjadi di kegiatan tersebut, bahkan ada yang memakan korban. Kita sebagai manusia yang diberikan akal dan nalar harus mampu belajar dan mengantisipasi dengan bijak segala kemungkinan buruk saat mendaki.