Selasa, 31 Maret 2026

Manajemen Risiko Dalam Pendakian Gunung

Pendakian gunung merupakan aktivitas alam bebas yang menantang karena melibatkan kondisi lingkungan yang berubah-ubah. Kegiatan ini tidak hanya membutuhkan fisik yang kuat, tetapi juga persiapan, pengetahuan, dan manajemen perjalanan yang baik agar tetap aman. Dalam pendakian, berbagai risiko bisa terjadi, seperti cuaca buruk, medan sulit, kelelahan, atau kesalahan manusia. Bahaya dalam pendakian itu dibagi menjadi dua, yaitu bahaya objektif dan bahaya subjektif.

1. Bahaya objektif 
Merupakan ancaman yang berasal dari kondisi alam dan lingkungan gunung, yang keberadaannya tidak dipengaruhi oleh perilaku atau tindakan dari pendaki itu sendiri. Artinya, bahaya ini tetap ada dan bisa terjadi kapan saja, meskipun pendaki sudah memiliki pengalaman dan telah berhati-hati. Salah satu ciri utama bahaya objektif adalah sifatnya yang sulit diprediksi secara pasti dan dapat berubah dengan cepat sesuai kondisi alam. Contoh yang paling umum adalah perubahan cuaca ekstrem, di mana kondisi yang awalnya cerah dapat berubah menjadi hujan lebat, badai, suhu dingin, atau kabut tebal dalam waktu yang singkat. Kondisi ini dapat mengganggu perjalanan, menurunkan jarak pandang, serta meningkatkan risiko hipotermia dan juga tersesat. 

Selain itu, kondisi medan seperti jalur yang curam, licin, berbatu, atau berada di area rawan longsor juga menjadi faktor yang dapat menyebabkan kecelakaan seperti terpeleset atau jatuh. Pada gunung berapi aktif, bahaya objektif juga mencakup ancaman seperti erupsi, gas beracun, dan aliran lahar yang sepenuhnya berada di luar kendali manusia. Tidak hanya itu, keberadaan flora dan fauna liar, seperti tumbuhan beracun atau hewan tertentu, juga dapat menjadi resiko atau ancaman tambahan bagi keselamatan pendaki.

Secara keseluruhan, bahaya objektif tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, tetapi dampaknya dapat diminimalkan melalui kewaspadaan, pemahaman kondisi lingkungan, serta pemantauan informasi sebelum dan selama pendakian berlangsung.

2. Bahaya subjektif 
Merupakan risiko yang berasal dari faktor manusia, baik individu maupun kelompok pendaki. Berbeda dengan bahaya objektif, bahaya ini sangat dipengaruhi oleh keputusan, perilaku, pengetahuan, serta kesiapan fisik dan mental, sehingga sebenarnya masih dapat dikendalikan dan dicegah. Salah satu bentuk yang paling umum adalah kurangnya persiapan sebelum pendakian, seperti tidak melatih fisik, tidak merencanakan rute dengan baik, atau membawa perlengkapan yang tidak memadai. Hal ini dapat menyebabkan kelelahan, cedera, hingga kondisi darurat di perjalanan. Selain itu, manajemen logistik yang buruk, seperti kekurangan makanan dan air, juga dapat memperburuk kondisi pendaki.

Bahaya subjektif juga sering muncul dari kesalahan dalam pengambilan keputusan, misalnya memaksakan diri saat cuaca buruk, tetap melanjutkan perjalanan saat kelelahan, atau memilih jalur yang tidak jelas. Keputusan seperti ini sering menjadi penyebab utama kecelakaan di gunung.
Kurangnya pengetahuan dan pengalaman juga menjadi faktor penting, terutama dalam hal navigasi, penggunaan alat, dan penanganan situasi darurat. Risiko ini semakin besar jika komunikasi dan koordinasi dalam tim tidak berjalan dengan baik. 

Selain itu, faktor psikologis seperti rasa percaya diri berlebihan atau kepanikan saat menghadapi situasi sulit dapat mengganggu kemampuan berpikir jernih dan meningkatkan kemungkinan terjadinya kesalahan. Oleh karena itu, bahaya subjektif dapat diminimalkan melalui persiapan yang matang, peningkatan pengetahuan, serta sikap disiplin selama pendakian. 

Dengan memahami hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendakian gunung memiliki risiko yang berasal dari bahaya objektif (faktor alam) dan bahaya subjektif (faktor manusia). Bahaya objektif cenderung sulit dikendalikan, sedangkan bahaya subjektif masih dapat dicegah melalui persiapan dan pengambilan keputusan yang tepat, sehingga pemahaman terhadap keduanya menjadi sangat penting untuk menjaga keselamatan selama pendakian.

Minggu, 29 Maret 2026

Laporan Explore Curug Aseupan

Tempat

Curug Aseupan

Waktu

Hari

Sabtu

Tanggal

13 September 2025

Jam

08.00 - Selesai

Anggaran Biaya

Transportasi

7 Unit Motor

 

Simaksi

- 14 x Rp20.000,00 = Rp280.000,00 (Simaksi Curug Tilu Leuwi Opat

- 11 x Rp10.000,00 = Rp110.000,00 (Simaksi Curug Aseupan)

Parkir

7 Motor x Rp2.000,00 = Rp14.000,00

Perjalanan Kegiatan

   Curug Aseupan terletak di kawasan wisata Curug Tilu Leuwi Opat, Kabupaten Bandung Barat. Pada pukul 08.00 WIB kami berkumpul di papan panjat Rattle Snake untuk sarapan bersama sambil menunggu yang lain datang. Tepat pukul 08.45 WIB, rombongan yang berjumlah 14 orang, terdiri dari 11 perempuan dan 3 laki-laki ( 5 DPH dan 9 orang umum) berangkat menuju Curug Aseupan. Kegiatan explore kali ini diikuti oleh mahasiswa baru TLM yang ingin menikmati keindahan curug bersama  Rattle Snake.

     Perjalanan menuju Curug Aseupan melewati jalur Curug Tilu Leuwi Opat. Saat memasuki gang menuju kawasan curug, kami membayar biaya sebesar Rp2.000,00 per motor. Jalan yang dilalui cukup berbatu, namun kami berhasil sampai di gerbang wisata untuk membayar tiket masuk sekaligus biaya parkir. Setelah memarkirkan motor, kami bersiap melakukan trekking. Sebelum memulai perjalanan, kami sempat menanyakan jalur kepada pengelola dan mendapatkan penjelasan yang cukup jelas.

     Trekking dimulai dengan menyusuri jalur yang landai, melewati dua curug terlebih dahulu. Di sepanjang perjalanan tersedia beberapa gazebo yang dapat digunakan untuk beristirahat maupun berkemah. Pemandangan alam yang tersaji sangat menakjubkan, termasuk leuwi dengan dinding batu serta jembatan yang kami lewati. Setelah kurang lebih 15 menit berjalan, kami tiba di Curug Kacapi yang saat itu sedang digunakan untuk kegiatan canyonering. Kami berhenti sejenak untuk menikmati keindahan curug tersebut, berfoto, sekaligus menyaksikan aktivitas canyonering yang cukup menarik.

     Karena tujuan utama kami adalah Curug Aseupan, perjalanan dilanjutkan dengan menaiki tangga menuju kawasan curug. Sebelum masuk, kami diwajibkan membayar biaya simaksi sebesar Rp10.000,00 per orang. Hanya para perempuan yang melanjutkan perjalanan, sementara tiga laki-laki menunggu di warung dekat Curug Kacapi. Setelah membayar simaksi, kami memasuki kawasan Curug Aseupan dengan hati-hati karena debit air cukup deras. Sesampainya di lokasi, kami langsung mengabadikan momen dengan berfoto. Tanpa terasa, hampir dua jam kami habiskan untuk menikmati suasana dan berfoto di sekitar curug, hingga akhirnya kami pun turun,

     Kami kemudian bergabung kembali dengan laki-laki yang menunggu di gazebo. Di sana, kami menyantap bekal sambil berbincang mengenai kehidupan kampus. Setelah dirasa cukup, kami bersiap pulang dan melakukan trekking kembali menuju area parkir selama kurang lebih 10 menit. Pukul 13.30 WIB kami meninggalkan lokasi dan tiba kembali di papan panjat sekitar pukul 14.15 WIB. Kami pun beristirahat sambil menikmati jajanan ringan serta berbagi cerita mengenai pengalaman menyenangkan saat explore Curug Aseupan kali ini.

Dokumentasi


 

Penulis: Hilwa “Dali”

Rabu, 25 Februari 2026

Laporan Explore Curug Sawer

Tempat

 Curug Sawer

Waktu

Hari

 Selasa - Rabu

Tanggal

 28 - 29 Januari 2025

Jam

 06.00 - Selesai

Anggaran Biaya

Transportasi

2 Unit Motor

 

Simaksi

Parkir

2 Motor x Rp10.000,00 = Rp20.000,00

Perjalanan Kegiatan


 Curug Sawer terletak di Kampung Cibeureum, Desa Mandalamekar, Kecamatan Jatiwaras, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Pada pukul 06.00 WIB, kami berkumpul di Kontrakan Bersama sebelum berangkat menuju Curug Sawer. Kegiatan explore ini diikuti oleh dua orang peserta yang terdiri atas satu orang Dewan Pengurus Harian (DPH) dan satu peserta umum. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa TLM yang ingin menikmati keindahan Curug Sawer bersama Rattle Snake.

 Perjalanan menuju Curug Sawer ditempuh melalui jalur Nagreg. Dalam perjalanan, kami sempat singgah untuk beristirahat di area Pom Bensin Gentong pada pukul 08.33 WIB guna melepas lelah sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah itu, perjalanan kembali dilanjutkan menuju Curug Sawer. Pada pukul 09.51 WIB, kami kembali berhenti sejenak untuk beristirahat di Indomaret/Alfamart Cibalong Banceuy, sekaligus mempersiapkan kondisi sebelum melanjutkan perjalanan menuju lokasi tujuan.

 Perjalanan dilanjutkan hingga kami tiba di area pemukiman warga pada pukul 11.26 WIB. Setibanya di lokasi, kami beristirahat sejenak sambil berbincang dengan warga setempat untuk mengetahui kondisi dan akses menuju Curug Sawer. Pada kawasan tersebut tidak terdapat tarif parkir resmi maupun penarikan tiket masuk, namun kami memberikan kontribusi sukarela sebesar Rp10.000,00 per orang sebagai bentuk apresiasi kepada warga setempat. Jalur menuju Curug Sawer cukup menantang karena didominasi oleh jalan berbatu serta harus melewati jembatan gantung, namun kami dapat melewati jalur tersebut dan tiba di lokasi dengan selamat.



     Trekking dimulai dengan menyusuri jalur yang relatif landai. Sepanjang perjalanan, kami hanya melewati beberapa rumah penduduk sehingga suasana terasa tenang dan jauh dari keramaian perkotaan, tercatat terdapat sekitar enam rumah di kawasan tersebut. Dalam perjalanan, kami bertemu dengan warga setempat dan berkesempatan bersosialisasi serta berdiskusi mengenai proses pembuatan nasi dari singkong yang dikenal sebagai oyek atau rasi. Warga setempat masih mengonsumsi rasi sebagai makanan pokok, yang diolah dari satu jenis tanaman untuk memenuhi satu porsi makan, dengan rasi sebagai pengganti nasi dan daun singkong sebagai lauk pendamping. Kami juga sempat ditawari untuk mencicipi hidangan tersebut lengkap dengan minuman air kelapa. Dalam kesempatan tersebut, kami diperkenalkan kepada beberapa warga, yaitu Abah, Emak, Mak Jumanah, dan Pak Asep.



     Dari berbagai obrolan bersama warga setempat, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah gubuk persawahan yang lokasinya tidak jauh dari Curug Sawer. Pada kondisi yang normal, estimasi waktu tempuh menuju curug sekitar 15 menit. Namun, karena kami terlebih dahulu bersosialisasi dengan warga dan beristirahat, kami baru tiba di Curug Sawer pada pukul 16.00 WIB. Setibanya di lokasi, kami beristirahat sambil menikmati suasana dan keindahan alam sekitar. Medan trekking menuju Curug Sawer tergolong ringan dan tidak memiliki banyak hambatan. Jalur yang dilalui berupa jalan setapak dari tanah liat, sebagaimana jalur pedesaan pada umumnya, sehingga relatif aman dan mudah dilalui. Sesampainya di Curug Sawer, kami menikmati keindahan alam sekitar dan langsung berenang di area curug. Airnya terasa sangat segar sehingga mampu menghilangkan rasa lelah setelah perjalanan. Untuk menghangatkan tubuh di tengah kondisi udara yang cukup dingin, kami juga membuat dan menikmati kopi bersama. Setelah merasa cukup puas menikmati keindahan Curug Sawer, kami kembali ke rumah warga untuk beristirahat dan bermalam sebelum melanjutkan perjalanan pulang keesokan harinya. Pada hari Rabu, 29 Januari 2025, kami berpamitan kepada warga setempat sebagai bentuk terima kasih atas izin serta kesempatan yang diberikan untuk belajar dan mengenal budaya setempat. Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan pulang dari Curug Sawer menuju Bandung dan tiba pada pukul 13.53 WIB tanpa melakukan pemberhentian untuk beristirahat di perjalanan.

Dokumentasi




  






Jumat, 30 Januari 2026

Upaya Pencarian, Perolehan, dan Pengolahan Air Layak Konsumsi dalam Kondisi Darurat (Water Procurement)

Dalam kondisi survival atau darurat di alam bebas, pengetahuan tentang Water Procurement adalah kunci antara hidup dan mati. Secara definisi, Water procurement merupakan sebuah langkah strategis untuk mencari, mendapatkan, hingga mengolah air agar aman dikonsumsi saat kita berada dalam situasi darurat atau survival. Di dalam dunia survival, air menempati urutan prioritas yang jauh lebih tinggi dibandingkan makanan. Hal ini dikarenakan tubuh manusia memiliki ambang batas yang sangat tipis terhadap dehidrasi; kita umumnya hanya mampu bertahan sekitar tiga hari tanpa asupan cairan sebelum fungsi tubuh menurun drastis. Kekurangan air bukan hanya soal rasa haus, tapi juga tentang penurunan konsentrasi dan stamina yang bisa berujung fatal. 


Cara Mendapatkan Air
- Mengikuti Aliran & Tanda Alam: Mencari air dengan mengikuti aliran sungai ke arah hilir serta mengamati vegetasi hijau dan jejak hewan yang biasanya menuju ke sumber air.

- Menggali Lubang Resapan: Teknik menggali lubang di dekat area sungai atau tanah lembap agar air tanah merembes keluar dan terfiltrasi secara alami oleh tanah.

- Solar Still: Teknik penyulingan air yang memanfaatkan panas matahari untuk menguapkan air dari tanah atau tumbuhan, lalu mengumpulkannya kembali.

- Transpirasi: Cara mendapatkan air dengan membungkus dedaunan pohon menggunakan plastik untuk menangkap


Cara Mengolah Air
- Merebus: Merupakan metode yang paling efektif untuk mensterilkan air dari kuman dan bakteri sebelum diminum.

- Penyaringan Konvensional: Proses menjernihkan air menggunakan lapisan penyaring sederhana seperti tisu, kapas, kain, batu, pasir, dan arang.

- Disinfeksi Kimia: Penggunaan zat kimia seperti tablet klorin, iodin, atau betadine untuk membunuh mikroorganisme berbahaya dalam air.

- SODIS: Teknik mematikan kuman dengan cara menjemur botol transparan berisi air di bawah terik sinar matahari langsung.

- Alat Water Filter: Penggunaan perangkat filter air modern (seperti survival straw) yang praktis dan efisien untuk menyaring air secara instan.

Rabu, 28 Januari 2026

Laporan Perjalanan Explore Curug Bugbrug

 

Tempat

Curug Bugbrug

Waktu

Hari

Minggu

Tanggal

28 Juli 2024

Jam

11.00 - Selesai

Anggaran Biaya

Transportasi

3 Unit Motor

Simaksi

  6 x Rp10.000,00 = Rp60.000,00

Parkir

3 Motor x Rp5.000,00 = Rp15.000,00

Perjalanan Kegiatan

Curug Bugbrug terletak di Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Lokasinya tersembunyi di tengah hutan yang rimbun dan berada di kawasan yang menawarkan udara sejuk serta pemandangan yang alami.

Eksplor ini dilakukan oleh 6 orang anggota Rattle Snake yaitu Baren “Mangu”, Hilwa “Dali”, Dince “Kulen”, Rinda “Ceta”, Anin “Patok”, dan Putri “Ingu”. Pada pukul 11.00 WIB, kami berkumpul di titik kumpul awal yang berada di Kampus Teknologi Laboratorium Medis, tepatnya di Papan Panjat Rattle Snake. Setelah bersiap kami berangkat menuju ke Curug Bugbrug, dibutuhkan waktu sekitar 30 menit perjalanan menggunakan motor.

Sampailah kami di area parkir Curug Bugbrug pukul 11.38 WIB dan diharuskan membayar biaya parkir sebesar Rp5.000,00 per motor. Untuk mencapai Curug Bugrug, kami menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit melalui jalur setapak yang cukup lebar untuk dilewati banyak orang. Di area Curug Bugbrug kami membayar simaksi sebesar Rp10.000,00 per satu orang agar dapat menikmati keindahan curug.

Suara gemuruh air terjun yang menyejukkan serta pemandangan alam yang memukau menyambut kami yang baru datang. Curug Bugbrug ramai dikunjungi saat akhir pekan, namun kami tetap menikmatinya dengan beristirahat dan duduk santai sambil menyantap bekal makanan dan minuman yang dibawa. Beberapa dari kami duduk di samping air terjun sambil mengobrol dan merasakan segarnya percikan air terjun yang dingin. Sementara itu yang lainnya memilih duduk di bawah pohon sambil menyesap kopi dan makan cemilan.

       Tidak terasa sudah hampir dua jam kami menghabiskan waktu di sana. Setelah puas menikmati keindahan curug, kami berkemas dan mengabadikan momen dengan berfoto di depan air terjun. Kemudian kami beranjak pulang pukul 14.30 WIB dan tiba di Gunung Batu sekitar pukul 15.00 WIB. Perjalanan singkat yang penuh kenangan ini meninggalkan kesan indah bagi kami semua dan memberikan pengalaman baru menikmati alam Bandung Barat.

Dokumentasi


Minggu, 14 Desember 2025

Cara Melakukan Orientasi Medan

Orientasi medan adalah kemampuan penting dalam navigasi darat, yang melibatkan pencocokan kondisi alam di lapangan dengan representasinya pada peta. Berikut adalah tips dan langkah-langkah efektif untuk melakukan orientasi medan: 
Langkah-langkah Orientasi Medan
- Cari Tempat Terbuka: Lakukan orientasi di tempat yang memungkinkan Anda melihat tanda-tanda medan di sekitar dengan jelas (misalnya puncak bukit atau area lapang).
- Siapkan Peta dan Kompas: Pastikan peta topografi yang digunakan sesuai dengan area jelajah. Letakkan peta pada bidang datar.
- Samakan Arah Utara: Sejajarkan arah utara peta (biasanya ditunjukkan oleh panah atau huruf "U") dengan arah utara magnetis yang ditunjukkan oleh kompas. Posisikan kompas di atas peta sejajar dengan garis bantu orientasi pada kompas atau garis bujur peta.
Identifikasi Titik Posisi:         
- Tentukan lokasi Anda saat ini di peta. Anda bisa melakukannya dengan mengenali tanda-tanda alam yang mencolok di lapangan (seperti persimpangan jalan, sungai, atau puncak gunung) dan mencocokkannya di peta.
- Gunakan Teknik Resection: Untuk penentuan posisi yang lebih akurat, gunakan teknik resection. Caranya adalah membidik dua atau lebih objek yang terlihat di lapangan dan juga tertera di peta, lalu tarik garis dari objek-objek tersebut ke posisi Anda saat ini di peta. Titik perpotongan garis-garis tersebut adalah lokasi Anda.
- Analisa Perjalanan: Setelah posisi diketahui, pelajari rute yang akan dilalui di peta. Analisa jarak, perkiraan waktu tempuh, dan tanda-tanda medan yang akan dilewati untuk mempermudah navigasi selanjutnya.

Rabu, 10 Desember 2025

Laporan Perjalanan Kegiatan Pendakian Gunung Papandayan

Tempat

Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat

 

Hari

Sabtu – Minggu

Waktu

Tanggal

29 – 30 November 2025

 

Jam

06.00 - selesai

Biota

Babi Hutan, Macan Tutul, Lutung, Elang Jawa, Burung Walik, Burung Kutilang, Edelweis, Puspa, Jamuju, Manglid.

Anggaran Biaya

Transportasi

1 unit elf × 2 hari × Rp1.600.000,00= Rp3.200.000.00

 

Simaksi

33 orang × Rp58.000,00 (harga pelajar)= Rp1.914.000,00

 

Cp Basecamp

 082124589648 (Kang Mulyana)

Aturan yang berlaku

1. Dilarang keras membuang sampah sembarangan, wajib bawa turun sampah.

2. Dilarang mencabut bunga (edelweis) atau mengganggu flora/fauna.

3. Dilarang memotong jalur pendakian, jangan bicara kasar/tidak sopan di area sakral.

4. Hindari mendaki saat cuaca buruk, gunakan sepatu anti-selip, siapkan logistik yang cukup.

Perjalanan Kegiatan

(Area Pondok Saladah, Gunung Papandayan)

                


     Gunung Papandayan terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Gunung ini merupakan salah satu gunung api yang terkenal dengan keindahan alamnya yang khas, seperti kawasan hutan mati dan kawah belerangnya. Dengan ketinggian sekitar 2.665 MDPL, Gunung Papandayan menawarkan jalur pendakian yang relatif ramah bagi pendaki, namun tetap memiliki tantangan tersendiri, terutama pada jalur berupa tangga dan bebatuan yang mengharuskan kewaspadaan yang ekstra. Selain memiliki daya tarik alam, Gunung Papandayan juga memiliki nilai historis karena menjadi lokasi didirikannya Rattle Snake pada tanggal 25 April 1998.


 
        (Dokumentasi sebelum memulai perjalanan menuju TWA Papandayan)

 


     Pada kegiatan Open Trip Rattle Snake 2025, destinasi yang dituju adalah Gunung Papandayan yang berlokasi di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Kegiatan ini diikuti oleh 22 orang Dewan Pengurus Harian, 5 Anggota Muda, serta 6 peserta umum. Sebagian panitia pendahulu berangkat menuju Garut pada hari Jumat menggunakan sepeda motor guna melakukan persiapan kegiatan Open Trip. Sementara itu, panitia lainnya mendampingi peserta menggunakan kendaraan elf yang berangkat pada hari Sabtu, 29 November 2025, pukul 08.00 WIB. Waktu tempuh perjalanan sekitar tiga setengah jam, dipengaruhi oleh kondisi lalu lintas yang cukup padat di wilayah Garut mengingat perjalanan dilakukan pada akhir pekan. Setibanya di area parkir TWA Gunung Papandayan, seluruh peserta dan panitia menurunkan perlengkapan, kemudian melaksanakan istirahat, shalat, dan makan (ISHOMA) sebelum memulai kegiatan pendakian.

               (Dokumentasi bersama sebelum memulai pendakian)

     Setelah melaksanakan ISHOMA pada pukul 12.50 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan persiapan pendakian yang meliputi pemanasan dan doa bersama. Selanjutnya, peserta memulai perjalanan dari area parkiran (Pos 3) menuju Pos 5 dengan waktu tempuh sekitar 10 menit melalui jalur yang masih beraspal dan mulai didominasi oleh tangga bebatuan. Setibanya di Pos 5, peserta beristirahat selama kurang lebih 5 menit sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pos 6 dengan durasi sekitar 40 menit. Pada jalur ini, medan berupa tangga dan bebatuan semakin terasa sehingga membutuhkan kewaspadaan ekstra. Sesampainya di Pos 6, peserta beristirahat di area gazebo dan sebagian peserta memanfaatkan waktu untuk berfoto. Pos 6 merupakan kawasan kawah dengan bau belerang yang cukup menyengat. Karena cuaca yang semakin terik serta aroma belerang yang kuat, perjalanan dilanjutkan menuju Pos 7 dengan waktu tempuh sekitar 40 menit. Jalur menuju Pos 7 memiliki elevasi yang mulai menanjak sehingga cukup menguras tenaga. Di Pos 7 terdapat fasilitas berupa warung dan toilet yang dimanfaatkan peserta untuk beristirahat. Sambil menunggu peserta yang masih tertinggal, kami beristirahat cukup lama di Pos 7 akibat kondisi cuaca yang panas. Setelah seluruh peserta berkumpul dan beristirahat, perjalanan dilanjutkan menuju area camp di Pondok Saladah dengan waktu tempuh sekitar satu jam setengah melalui jalur yang cukup menantang. Peserta pun tiba di Area Camp Pondok Saladah sekitar pukul 15.50 WIB dan disambut dengan minuman segar yang telah disiapkan oleh panitia. Secara keseluruhan, total waktu perjalanan dari area parkiran hingga Camp Pondok Saladah adalah kurang lebih 2 jam 20 menit.

 

( Dokumentasi kegiatan bebas)

    

    Kami beristirahat di tenda masing-masing dan melaksanakan salat Asar. Pada pukul 16.25 WIB, peserta berkumpul di depan tenda untuk berbincang dan bermain kartu. Kegiatan sunset di Hutan Mati ditiadakan karena cuaca gerimis dan berkabut, sehingga digantikan dengan sesi foto di area hamparan edelweiss sekitar area camp. Menjelang magrib, peserta melaksanakan salat dan makan malam bersama. Pada pukul 19.45 WIB, kegiatan bermain kartu dilanjutkan, sementara sebagian panitia memasak dan sebagian lainnya mendampingi peserta. Saat kegiatan berlangsung, terlihat seekor babi hutan melintas di sekitar tenda, yang menimbulkan rasa kaget. Kegiatan ditutup dengan istirahat pada pukul 21.15 WIB. Sebagai langkah antisipasi, seluruh bahan konsumsi dan barang bawaan yang berpotensi menarik babi hutan dikumpulkan dan digantung di pohon sebelum beristirahat.

(Dokumentasi sunrise di Hutan Mati)

     Pada pukul 04.30 WIB, sebagian peserta dan panitia bangun untuk bersih-bersih, melaksanakan salat Subuh, dan bersiap untuk kegiatan sunrise. Rencana awal sunrise di Ghoberhoet diubah ke Hutan Mati berdasarkan saran warga setempat. Pada pukul 05.15 WIB, peserta berangkat menuju Hutan Mati dengan waktu tempuh sekitar 15 menit dari area camp. Setibanya di Hutan Mati, peserta menikmati sunrise meskipun sebagian pemandangan terhalang kabut, kemudian melakukan sesi foto dan membuat konten hingga pukul 07.00 WIB. Selanjutnya, peserta kembali ke area camp untuk sarapan yang disediakan panitia konsumsi, kemudian dilanjutkan dengan kgiatan bebas dan persiapan pulang . Pada pukul 09.45 WIB, kami bersiap turun melewati Hutan Mati terlebih dahulu untuk dokumentasi bersama hingga pukul 11.30 WIB. Setelah itu, peseta turun menuju area parkiran dan tiba pada pukul 13.15 WIB. Karena waktu kedatangan lebih cepat dari yang direncanakan, peserta beristirahat di gazebo hingga pukul 14.00 WIB sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya, yaitu pemandian air panas.

(Dokumentasi di Tepas Papandayan)

     Pada pukul 14.00 WIB, seluruh barang-barang peserta dan panitia dimasukkan ke dalam kendaraan elf dan kami melanjutkan perjalanan menuju pemandian air panas. Meskipun tiba pada siang hari, kondisi pemandian cukup ramai. Setibanya di pemandian air panas, peserta berganti pakaian dan berendam di kolam air panas untuk melepas lelah, yang memberikan efek rileks dan menenangkan. Kegiatan berendam berlangsung hingga pukul 17.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan mandi dan persiapan pulang. Pada pukul 17.11 WIB, kami berangkat kembali menuju Cimahi dalam kondisi hujan deras. Perjalanan sempat singgah di pusat oleh-oleh pada pukul 19.00 WIB untuk membeli buah tangan bagi keluarga. Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan dan tiba di kampus pada pukul 21.20 WIB. Setibanya di kampus, seluruh barang-barang diturunkan dan kegiatan Open Trip Rattle Snake 2025 secara resmi ditutup oleh Ketua Pelaksana.

Dokumentasi

 

Penulis: Hilwa ‘Dali'

Editor: Razzan ‘Peru’