Senin, 25 Agustus 2025

Simpul dan Ikatan: Seni Kecil di Balik Perjalanan Besar


  Tali-temali bukan sekedar mengikat dan menyimpul sebuah benda yang ingin dipikul namun, tali-temali mengikat tanggung jawab dan menyimpulkan hasil akhir yang nantinya akan menetukan masa depan yang akan muncul. Pada kali ini, kita akan membahas sebuah simpul yang sederhana namun berperan penting bagi keberlangsungan pada pendakian. Sebelum itu, mungkin sebagian besar dari kalian sudah tahu perbedaan simpul dan ikatan. Singkatnya simpul adalah hubungan antara tali dengan tali, sedangkan ikatan adalah hubungan antara tali dengan benda lain seperti kayu, tiang, atau bambu. Nah pembahasan kali ini kita akan berfokus pada beberapa simpul dan ikatan yang dianggap sepele namun bisa sangat berguna pada keadaan tertentu seperti misalnya clove hitch, cow hitch, overhand hitch atau yang lebih familiar kita sebut sebagai simpul jangkar, pangkal dan simpul hidup/mati. Pada pendakian umum biasanya sudah terdapat tali dengan autostop pada tenda yang mengadopsi cara kerja ikatan guyline yang bisa disesuaikan panjang pendeknya pada objek yang ditautkan. Pada beberapa kasus terdapat tidak sedikit benda-benda yang sudah sepaket dari tenda mulai hilang dan rusak sehingga mengharuskan kita untuk menggunakan cara manual dengan menggunakan berbagai seni tali-temali.

• Guyline/non-slip knot


  Simpul ini mempunyai banyak nama yang berbeda di setiap belahan dunia namun, pada umumnya disebut sebagai guyline/nonslip knot yang berfungsi sebagai pengikat yang menautkan antara benda yang ingin diikat ke benda lain sebagai tumpuan. Prinsip sederhananya adalah benda tumpuannya bisa menahan benda yang ingin ditumpu dengan menyesuaikan panjang jauhnya tali secara sederhana dengan menarik simpul pengunci supaya tidak slip atau tergelincir ke posisi semula. Caranya sederhana, tautkan tali pada benda tumpuan lalu lilitkan tali ke arah tali masuk sebanyak yang dibutuhkan, umumnya sebanyak 3-5 lilitan. Diakhiri dengan tali mati atau hidup untuk mempermudah pembongkaran simpul. Umumnya ditautkan antara layer luar tenda ke patok yang ditancapkan atau bisa juga ke ranting pepohonan yang kuat menahan beban, bisa juga dalam pengaplikasian pembuatan bivak dengan flysheet yang mengharuskan mengikat ujung flysheetke pepohonan sekitar. Simpul inilah yang akhirnya diadopsi prinsipnya oleh berbagai produsen tenda untuk menciptakan autostop pada perusik yang tersedia pada tautan tenda.

• Simpul nelayan


  Umumnya digunakan oleh para nelayan di lautan untuk mengikat ujung tali ke ujung tali lainnya, dengan kata lain menyambungkan dua tali yang berbeda untuk menambah panjang tali. Ada berbagai jenis versi dalam penggabungan tali ini, bisa dengan simpul tali mati secara langsung bersamaan pada dua tali, bahkan bisa juga memperpendek dengan mengikat lilitan yang banyak untuk membagi panjang tali. Yang paling umum digunakan oleh nelayan adalah dengan mengikat ujung tali ke tali yang ingin digabung dan begitu juga sebaliknya, bisa sangat berguna dan efisien ketika dalam kondisi basah yang mudah tergelincir ataupun pada keadaan beda ukuran tali. Nah, pada pendakian yang umumnya memakai perusik dengan bentuk bulat seperti tali yang digunakan oleh para nelayan juga bisa diaplikasikan dengan cara yang sama. Bahkan dianggap lebih kuat bagi kebutuhan yang memerlukan ketahanan memikul beban berat.

• Alpine butterfly knot


  Mungkin lebih umum kita kenal sebagai simpul kupu-kupu, adalah simpul yang berfungsi untuk memberikan suatu untai lingkaran pada bentangan tali yang bisa dimanfaatkan untuk menggantungkan berbagai macam benda yang memiliiki hook penggantungan seperti lampu tenda ataupun menggantungkan apapun bila ditambah tali penggantung. Pada prinsipnya bisa diakali dengan simpul prusik atau sederhananya simpul jangkar dililitkan dua kali pada seutas tali tambahan yang pendek bila bentangan talinya sudah terlanjur direntangkan. Dengan menggunakan simpul prusik pun bisa lebih fleksibel dalam pengaturan posisinya, bahkan jika pada keadaan yang mengharuskan kita melakukan teknik logistik gantung simpul ini bisa menjadi sebuah solusi sederhana tanpa tambahan tali yang banyak.

• Munter hitch

  Munter hitch atau simpul italia juga dikenal dengan nama mezzo barciolo adalah simpul sederhana yang bisa disesuaikan, umumnya digunakan oleh para penjelajah gua pada saat caving ketika minimnya alat yang tersedia. Bisa digunakan untuk mengendalikan gesekan ketika digunakan menjadi belay device. Pada pendakian di medan curam pun simpul ini bisa digunakan sebagai alternatif di situasi darurat untuk rappeling ketika turun dengan kondisi minim alat. Prinspnya sederhana cukup lilitkan pada carabiner secara silang hingga mengunci tali yang terlilit oleh arah masuknya, alat yang diperlukan pun cukup tali dan carabiner berbentuk buah pir atau dikenal juga dengan nama HMS carabiner yang memiliki bentuk asimetris seperti buah pir dengan alas lebar dan bagian atas yang lebih kecil. Pada kondisi evakuasi darurat pun bisa digunakan untuk menurunkan barang ataupun korban di medan curam ketika tidak adanya belay device seperti figure eight ataupun autostop. Pada simpul ini ketika mengunci dapat dikatakan bisa menahan beban yang lumayan berat hingga 2,5kn pada penggunaan maksimalnya, tergantung pada jenis tali dan bahan dasar carabiner yang digunakan.

  Demikian beberapa seni tali-temali yang mungkin masih awam bagi sebagian pendaki yang bisa bermanfaat pada kondisi darurat atau kurang memadai dari segi alat. Bukan berarti dengan alat dan persiapan seadanya bisa melakukan suatu kegiatan yang kita bahas diatas, akan tetapi persiapan yang proper tetap menjadi prioritas utama apalagi pada pendakian yang memiliki kondisi ekstrim. Seni tali-temali menjadi dasar dan penyelamat dikala keadaan darurat namun, kembali lagi ke manajemen perjalanan yang harus dipersiapkan dengan matang mengingat mendaki gunung adalah salah satu olahraga ekstrim yang masih belum terlalu banyak orang yang aware terhadap hal ini. Semoga sedikit ilmu ini bisa membantu mengemban tanggung jawab yang tertaut pada setiap kegiatan sehingga akhir simpulannya dapat berakhir dengan sebagai mana mestinya