Senin, 29 Desember 2025

Laporan Explore Curug Sawer

Tempat

 Curug Sawer

Waktu

Hari

 Selasa - Rabu

Tanggal

 28 - 29 Januari 2025

Jam

 06.00 - Selesai

Anggaran Biaya

Transportasi

2 Unit Motor

 

Simaksi

Parkir

2 Motor x Rp10.000,00 = Rp20.000,00

Perjalanan Kegiatan


 Curug Sawer terletak di Kampung Cibeureum, Desa Mandalamekar, Kecamatan Jatiwaras, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Pada pukul 06.00 WIB, kami berkumpul di Kontrakan Bersama sebelum berangkat menuju Curug Sawer. Kegiatan explore ini diikuti oleh dua orang peserta yang terdiri atas satu orang Dewan Pengurus Harian (DPH) dan satu peserta umum. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa TLM yang ingin menikmati keindahan Curug Sawer bersama Rattle Snake.

 Perjalanan menuju Curug Sawer ditempuh melalui jalur Nagreg. Dalam perjalanan, kami sempat singgah untuk beristirahat di area Pom Bensin Gentong pada pukul 08.33 WIB guna melepas lelah sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah itu, perjalanan kembali dilanjutkan menuju Curug Sawer. Pada pukul 09.51 WIB, kami kembali berhenti sejenak untuk beristirahat di Indomaret/Alfamart Cibalong Banceuy, sekaligus mempersiapkan kondisi sebelum melanjutkan perjalanan menuju lokasi tujuan.

 Perjalanan dilanjutkan hingga kami tiba di area pemukiman warga pada pukul 11.26 WIB. Setibanya di lokasi, kami beristirahat sejenak sambil berbincang dengan warga setempat untuk mengetahui kondisi dan akses menuju Curug Sawer. Pada kawasan tersebut tidak terdapat tarif parkir resmi maupun penarikan tiket masuk, namun kami memberikan kontribusi sukarela sebesar Rp10.000,00 per orang sebagai bentuk apresiasi kepada warga setempat. Jalur menuju Curug Sawer cukup menantang karena didominasi oleh jalan berbatu serta harus melewati jembatan gantung, namun kami dapat melewati jalur tersebut dan tiba di lokasi dengan selamat.



     Trekking dimulai dengan menyusuri jalur yang relatif landai. Sepanjang perjalanan, kami hanya melewati beberapa rumah penduduk sehingga suasana terasa tenang dan jauh dari keramaian perkotaan, tercatat terdapat sekitar enam rumah di kawasan tersebut. Dalam perjalanan, kami bertemu dengan warga setempat dan berkesempatan bersosialisasi serta berdiskusi mengenai proses pembuatan nasi dari singkong yang dikenal sebagai oyek atau rasi. Warga setempat masih mengonsumsi rasi sebagai makanan pokok, yang diolah dari satu jenis tanaman untuk memenuhi satu porsi makan, dengan rasi sebagai pengganti nasi dan daun singkong sebagai lauk pendamping. Kami juga sempat ditawari untuk mencicipi hidangan tersebut lengkap dengan minuman air kelapa. Dalam kesempatan tersebut, kami diperkenalkan kepada beberapa warga, yaitu Abah, Emak, Mak Jumanah, dan Pak Asep.



     Dari berbagai obrolan bersama warga setempat, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah gubuk persawahan yang lokasinya tidak jauh dari Curug Sawer. Pada kondisi yang normal, estimasi waktu tempuh menuju curug sekitar 15 menit. Namun, karena kami terlebih dahulu bersosialisasi dengan warga dan beristirahat, kami baru tiba di Curug Sawer pada pukul 16.00 WIB. Setibanya di lokasi, kami beristirahat sambil menikmati suasana dan keindahan alam sekitar. Medan trekking menuju Curug Sawer tergolong ringan dan tidak memiliki banyak hambatan. Jalur yang dilalui berupa jalan setapak dari tanah liat, sebagaimana jalur pedesaan pada umumnya, sehingga relatif aman dan mudah dilalui. Sesampainya di Curug Sawer, kami menikmati keindahan alam sekitar dan langsung berenang di area curug. Airnya terasa sangat segar sehingga mampu menghilangkan rasa lelah setelah perjalanan. Untuk menghangatkan tubuh di tengah kondisi udara yang cukup dingin, kami juga membuat dan menikmati kopi bersama. Setelah merasa cukup puas menikmati keindahan Curug Sawer, kami kembali ke rumah warga untuk beristirahat dan bermalam sebelum melanjutkan perjalanan pulang keesokan harinya. Pada hari Rabu, 29 Januari 2025, kami berpamitan kepada warga setempat sebagai bentuk terima kasih atas izin serta kesempatan yang diberikan untuk belajar dan mengenal budaya setempat. Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan pulang dari Curug Sawer menuju Bandung dan tiba pada pukul 13.53 WIB tanpa melakukan pemberhentian untuk beristirahat di perjalanan.

Dokumentasi




  






Minggu, 14 Desember 2025

Cara Melakukan Orientasi Medan

Orientasi medan adalah kemampuan penting dalam navigasi darat, yang melibatkan pencocokan kondisi alam di lapangan dengan representasinya pada peta. Berikut adalah tips dan langkah-langkah efektif untuk melakukan orientasi medan: 
Langkah-langkah Orientasi Medan
- Cari Tempat Terbuka: Lakukan orientasi di tempat yang memungkinkan Anda melihat tanda-tanda medan di sekitar dengan jelas (misalnya puncak bukit atau area lapang).
- Siapkan Peta dan Kompas: Pastikan peta topografi yang digunakan sesuai dengan area jelajah. Letakkan peta pada bidang datar.
- Samakan Arah Utara: Sejajarkan arah utara peta (biasanya ditunjukkan oleh panah atau huruf "U") dengan arah utara magnetis yang ditunjukkan oleh kompas. Posisikan kompas di atas peta sejajar dengan garis bantu orientasi pada kompas atau garis bujur peta.
Identifikasi Titik Posisi:         
- Tentukan lokasi Anda saat ini di peta. Anda bisa melakukannya dengan mengenali tanda-tanda alam yang mencolok di lapangan (seperti persimpangan jalan, sungai, atau puncak gunung) dan mencocokkannya di peta.
- Gunakan Teknik Resection: Untuk penentuan posisi yang lebih akurat, gunakan teknik resection. Caranya adalah membidik dua atau lebih objek yang terlihat di lapangan dan juga tertera di peta, lalu tarik garis dari objek-objek tersebut ke posisi Anda saat ini di peta. Titik perpotongan garis-garis tersebut adalah lokasi Anda.
- Analisa Perjalanan: Setelah posisi diketahui, pelajari rute yang akan dilalui di peta. Analisa jarak, perkiraan waktu tempuh, dan tanda-tanda medan yang akan dilewati untuk mempermudah navigasi selanjutnya.

Rabu, 10 Desember 2025

Laporan Perjalanan Kegiatan Pendakian Gunung Papandayan

Tempat

Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat

 

Hari

Sabtu – Minggu

Waktu

Tanggal

29 – 30 November 2025

 

Jam

06.00 - selesai

Biota

Babi Hutan, Macan Tutul, Lutung, Elang Jawa, Burung Walik, Burung Kutilang, Edelweis, Puspa, Jamuju, Manglid.

Anggaran Biaya

Transportasi

1 unit elf × 2 hari × Rp1.600.000,00= Rp3.200.000.00

 

Simaksi

33 orang × Rp58.000,00 (harga pelajar)= Rp1.914.000,00

 

Cp Basecamp

 082124589648 (Kang Mulyana)

Aturan yang berlaku

1. Dilarang keras membuang sampah sembarangan, wajib bawa turun sampah.

2. Dilarang mencabut bunga (edelweis) atau mengganggu flora/fauna.

3. Dilarang memotong jalur pendakian, jangan bicara kasar/tidak sopan di area sakral.

4. Hindari mendaki saat cuaca buruk, gunakan sepatu anti-selip, siapkan logistik yang cukup.

Perjalanan Kegiatan

(Area Pondok Saladah, Gunung Papandayan)

                


     Gunung Papandayan terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Gunung ini merupakan salah satu gunung api yang terkenal dengan keindahan alamnya yang khas, seperti kawasan hutan mati dan kawah belerangnya. Dengan ketinggian sekitar 2.665 MDPL, Gunung Papandayan menawarkan jalur pendakian yang relatif ramah bagi pendaki, namun tetap memiliki tantangan tersendiri, terutama pada jalur berupa tangga dan bebatuan yang mengharuskan kewaspadaan yang ekstra. Selain memiliki daya tarik alam, Gunung Papandayan juga memiliki nilai historis karena menjadi lokasi didirikannya Rattle Snake pada tanggal 25 April 1998.


 
        (Dokumentasi sebelum memulai perjalanan menuju TWA Papandayan)

 


     Pada kegiatan Open Trip Rattle Snake 2025, destinasi yang dituju adalah Gunung Papandayan yang berlokasi di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Kegiatan ini diikuti oleh 22 orang Dewan Pengurus Harian, 5 Anggota Muda, serta 6 peserta umum. Sebagian panitia pendahulu berangkat menuju Garut pada hari Jumat menggunakan sepeda motor guna melakukan persiapan kegiatan Open Trip. Sementara itu, panitia lainnya mendampingi peserta menggunakan kendaraan elf yang berangkat pada hari Sabtu, 29 November 2025, pukul 08.00 WIB. Waktu tempuh perjalanan sekitar tiga setengah jam, dipengaruhi oleh kondisi lalu lintas yang cukup padat di wilayah Garut mengingat perjalanan dilakukan pada akhir pekan. Setibanya di area parkir TWA Gunung Papandayan, seluruh peserta dan panitia menurunkan perlengkapan, kemudian melaksanakan istirahat, shalat, dan makan (ISHOMA) sebelum memulai kegiatan pendakian.

               (Dokumentasi bersama sebelum memulai pendakian)

     Setelah melaksanakan ISHOMA pada pukul 12.50 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan persiapan pendakian yang meliputi pemanasan dan doa bersama. Selanjutnya, peserta memulai perjalanan dari area parkiran (Pos 3) menuju Pos 5 dengan waktu tempuh sekitar 10 menit melalui jalur yang masih beraspal dan mulai didominasi oleh tangga bebatuan. Setibanya di Pos 5, peserta beristirahat selama kurang lebih 5 menit sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pos 6 dengan durasi sekitar 40 menit. Pada jalur ini, medan berupa tangga dan bebatuan semakin terasa sehingga membutuhkan kewaspadaan ekstra. Sesampainya di Pos 6, peserta beristirahat di area gazebo dan sebagian peserta memanfaatkan waktu untuk berfoto. Pos 6 merupakan kawasan kawah dengan bau belerang yang cukup menyengat. Karena cuaca yang semakin terik serta aroma belerang yang kuat, perjalanan dilanjutkan menuju Pos 7 dengan waktu tempuh sekitar 40 menit. Jalur menuju Pos 7 memiliki elevasi yang mulai menanjak sehingga cukup menguras tenaga. Di Pos 7 terdapat fasilitas berupa warung dan toilet yang dimanfaatkan peserta untuk beristirahat. Sambil menunggu peserta yang masih tertinggal, kami beristirahat cukup lama di Pos 7 akibat kondisi cuaca yang panas. Setelah seluruh peserta berkumpul dan beristirahat, perjalanan dilanjutkan menuju area camp di Pondok Saladah dengan waktu tempuh sekitar satu jam setengah melalui jalur yang cukup menantang. Peserta pun tiba di Area Camp Pondok Saladah sekitar pukul 15.50 WIB dan disambut dengan minuman segar yang telah disiapkan oleh panitia. Secara keseluruhan, total waktu perjalanan dari area parkiran hingga Camp Pondok Saladah adalah kurang lebih 2 jam 20 menit.

 

( Dokumentasi kegiatan bebas)

    

    Kami beristirahat di tenda masing-masing dan melaksanakan salat Asar. Pada pukul 16.25 WIB, peserta berkumpul di depan tenda untuk berbincang dan bermain kartu. Kegiatan sunset di Hutan Mati ditiadakan karena cuaca gerimis dan berkabut, sehingga digantikan dengan sesi foto di area hamparan edelweiss sekitar area camp. Menjelang magrib, peserta melaksanakan salat dan makan malam bersama. Pada pukul 19.45 WIB, kegiatan bermain kartu dilanjutkan, sementara sebagian panitia memasak dan sebagian lainnya mendampingi peserta. Saat kegiatan berlangsung, terlihat seekor babi hutan melintas di sekitar tenda, yang menimbulkan rasa kaget. Kegiatan ditutup dengan istirahat pada pukul 21.15 WIB. Sebagai langkah antisipasi, seluruh bahan konsumsi dan barang bawaan yang berpotensi menarik babi hutan dikumpulkan dan digantung di pohon sebelum beristirahat.

(Dokumentasi sunrise di Hutan Mati)

     Pada pukul 04.30 WIB, sebagian peserta dan panitia bangun untuk bersih-bersih, melaksanakan salat Subuh, dan bersiap untuk kegiatan sunrise. Rencana awal sunrise di Ghoberhoet diubah ke Hutan Mati berdasarkan saran warga setempat. Pada pukul 05.15 WIB, peserta berangkat menuju Hutan Mati dengan waktu tempuh sekitar 15 menit dari area camp. Setibanya di Hutan Mati, peserta menikmati sunrise meskipun sebagian pemandangan terhalang kabut, kemudian melakukan sesi foto dan membuat konten hingga pukul 07.00 WIB. Selanjutnya, peserta kembali ke area camp untuk sarapan yang disediakan panitia konsumsi, kemudian dilanjutkan dengan kgiatan bebas dan persiapan pulang . Pada pukul 09.45 WIB, kami bersiap turun melewati Hutan Mati terlebih dahulu untuk dokumentasi bersama hingga pukul 11.30 WIB. Setelah itu, peseta turun menuju area parkiran dan tiba pada pukul 13.15 WIB. Karena waktu kedatangan lebih cepat dari yang direncanakan, peserta beristirahat di gazebo hingga pukul 14.00 WIB sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya, yaitu pemandian air panas.

(Dokumentasi di Tepas Papandayan)

     Pada pukul 14.00 WIB, seluruh barang-barang peserta dan panitia dimasukkan ke dalam kendaraan elf dan kami melanjutkan perjalanan menuju pemandian air panas. Meskipun tiba pada siang hari, kondisi pemandian cukup ramai. Setibanya di pemandian air panas, peserta berganti pakaian dan berendam di kolam air panas untuk melepas lelah, yang memberikan efek rileks dan menenangkan. Kegiatan berendam berlangsung hingga pukul 17.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan mandi dan persiapan pulang. Pada pukul 17.11 WIB, kami berangkat kembali menuju Cimahi dalam kondisi hujan deras. Perjalanan sempat singgah di pusat oleh-oleh pada pukul 19.00 WIB untuk membeli buah tangan bagi keluarga. Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan dan tiba di kampus pada pukul 21.20 WIB. Setibanya di kampus, seluruh barang-barang diturunkan dan kegiatan Open Trip Rattle Snake 2025 secara resmi ditutup oleh Ketua Pelaksana.

Dokumentasi

 

Penulis: Hilwa ‘Dali'

Editor: Razzan ‘Peru’

Kamis, 30 Oktober 2025

Zoologi dalam Survival Activity pada Kegiatan Outdoor

Dalam kegiatan outdoor, kemampuan bertahan hidup di alam liar merupakan kompetensi dasar yang wajib dikuasai. Contoh situasi kritis yang mungkin dihadapi adalah tersesat di hutan dengan bekal makanan yang terbatas atau habis. Salah satu aspek penting dalam survival adalah kemampuan mencari sumber protein hewani yang aman untuk dikonsumsi. Pengetahuan zoologi dasar sangat membantu dalam mengidentifikasi hewan-hewan yang dapat dimakan dan menghindari yang beracun atau berbahaya. Dalam situasi darurat, memilih hewan yang tepat bisa menjadi perbedaan antara bertahan hidup atau mengalami keracunan yang justru memperburuk kondisi. 

Sebelum membahas jenis-jenis hewan spesifik, penting untuk memahami prinsip-prinsip dasar dalam memilih hewan yang aman dimakan, diantaranya ;
1. warna, hewan dengan warna cerah mencolok seperti merah terang, kuning menyala, oranye terang, atau kombinasi warna kontras biasanya merupakan sinyal peringatan alamiah bahwa hewan tersebut beracun atau berbahaya. 
2. perilaku, hindari hewan yang berperilaku tidak normal, terlihat sakit, lesu, atau terlalu jinak karena bisa terinfeksi penyakit seperti rabies.
3. habitat, hewan dari air mengalir jernih cenderung lebih aman daripada dari air tergenang yang kotor.

contoh-contoh zoologi yang dapat dimakan:
1. Ulat sagu 
Ulat sagu berasal dari batang pohon sagu yang membusuk. Mengandung protein dan lemak tinggi, sering dikonsumsi di Papua dan Maluku, baik mentah maupun digoreng.
2. Cacing tanah 
Mengandung protein tinggi dan asam amino esensial. Di beberapa daerah digunakan sebagai bahan makanan dan obat tradisional.
3. Keong
Dikenal juga sebagai keong mas, memiliki daging kenyal dan bergizi. Umumnya dimasak dengan bumbu pedas atau santan.
4. Katak 
Daging katak memiliki tekstur lembut dan kandungan protein tinggi. Banyak dikonsumsi di Asia sebagai sumber protein alternatif.
5. Belalang 
Mengandung protein, lemak sehat, dan mineral. Biasanya digoreng atau dipanggang sebagai camilan di beberapa negara tropis.
6. Jangkrik 
Kaya protein dan kalsium. Umum dijadikan makanan ringan tinggi gizi dengan cara digoreng atau dibuat tepung protein.
7. Larva lebah 
Mengandung protein, lemak, dan vitamin B kompleks. Sering dimakan di beberapa negara Asia sebagai makanan eksotis.
8. Semut 
Semut dan telurnya mengandung protein dan vitamin C. Banyak dikonsumsi di Thailand dan Laos, biasanya diolah menjadi sup atau sambal.

Hal terpenting dalam memilih hewan untuk dimakan adalah prinsip kehati-hatian dan selalu memasak makanan hingga matang sempurna. Jika ragu terhadap keamanan suatu hewan, lebih baik tidak mengonsumsinya. Amati perilaku hewan lokal-apa yang dimakan oleh primata atau burung pemakan daging biasanya aman untuk manusia. Hindari hewan yang sudah mati dalam kondisi tidak diketahui penyebabnya, reptil berbisa seperti ular tanpa pengetahuan memadai, serta hewan yang mengeluarkan busa atau cairan aneh saat disentuh. Dengan pengetahuan zoologi dasar dan prinsip kehati-hatian, Anda dapat meningkatkan peluang bertahan hidup saat tersesat di hutan sambil menunggu pertolongan datang.

Senin, 25 Agustus 2025

Simpul dan Ikatan: Seni Kecil di Balik Perjalanan Besar


  Tali-temali bukan sekedar mengikat dan menyimpul sebuah benda yang ingin dipikul namun, tali-temali mengikat tanggung jawab dan menyimpulkan hasil akhir yang nantinya akan menetukan masa depan yang akan muncul. Pada kali ini, kita akan membahas sebuah simpul yang sederhana namun berperan penting bagi keberlangsungan pada pendakian. Sebelum itu, mungkin sebagian besar dari kalian sudah tahu perbedaan simpul dan ikatan. Singkatnya simpul adalah hubungan antara tali dengan tali, sedangkan ikatan adalah hubungan antara tali dengan benda lain seperti kayu, tiang, atau bambu. Nah pembahasan kali ini kita akan berfokus pada beberapa simpul dan ikatan yang dianggap sepele namun bisa sangat berguna pada keadaan tertentu seperti misalnya clove hitch, cow hitch, overhand hitch atau yang lebih familiar kita sebut sebagai simpul jangkar, pangkal dan simpul hidup/mati. Pada pendakian umum biasanya sudah terdapat tali dengan autostop pada tenda yang mengadopsi cara kerja ikatan guyline yang bisa disesuaikan panjang pendeknya pada objek yang ditautkan. Pada beberapa kasus terdapat tidak sedikit benda-benda yang sudah sepaket dari tenda mulai hilang dan rusak sehingga mengharuskan kita untuk menggunakan cara manual dengan menggunakan berbagai seni tali-temali.

• Guyline/non-slip knot


  Simpul ini mempunyai banyak nama yang berbeda di setiap belahan dunia namun, pada umumnya disebut sebagai guyline/nonslip knot yang berfungsi sebagai pengikat yang menautkan antara benda yang ingin diikat ke benda lain sebagai tumpuan. Prinsip sederhananya adalah benda tumpuannya bisa menahan benda yang ingin ditumpu dengan menyesuaikan panjang jauhnya tali secara sederhana dengan menarik simpul pengunci supaya tidak slip atau tergelincir ke posisi semula. Caranya sederhana, tautkan tali pada benda tumpuan lalu lilitkan tali ke arah tali masuk sebanyak yang dibutuhkan, umumnya sebanyak 3-5 lilitan. Diakhiri dengan tali mati atau hidup untuk mempermudah pembongkaran simpul. Umumnya ditautkan antara layer luar tenda ke patok yang ditancapkan atau bisa juga ke ranting pepohonan yang kuat menahan beban, bisa juga dalam pengaplikasian pembuatan bivak dengan flysheet yang mengharuskan mengikat ujung flysheetke pepohonan sekitar. Simpul inilah yang akhirnya diadopsi prinsipnya oleh berbagai produsen tenda untuk menciptakan autostop pada perusik yang tersedia pada tautan tenda.

• Simpul nelayan


  Umumnya digunakan oleh para nelayan di lautan untuk mengikat ujung tali ke ujung tali lainnya, dengan kata lain menyambungkan dua tali yang berbeda untuk menambah panjang tali. Ada berbagai jenis versi dalam penggabungan tali ini, bisa dengan simpul tali mati secara langsung bersamaan pada dua tali, bahkan bisa juga memperpendek dengan mengikat lilitan yang banyak untuk membagi panjang tali. Yang paling umum digunakan oleh nelayan adalah dengan mengikat ujung tali ke tali yang ingin digabung dan begitu juga sebaliknya, bisa sangat berguna dan efisien ketika dalam kondisi basah yang mudah tergelincir ataupun pada keadaan beda ukuran tali. Nah, pada pendakian yang umumnya memakai perusik dengan bentuk bulat seperti tali yang digunakan oleh para nelayan juga bisa diaplikasikan dengan cara yang sama. Bahkan dianggap lebih kuat bagi kebutuhan yang memerlukan ketahanan memikul beban berat.

• Alpine butterfly knot


  Mungkin lebih umum kita kenal sebagai simpul kupu-kupu, adalah simpul yang berfungsi untuk memberikan suatu untai lingkaran pada bentangan tali yang bisa dimanfaatkan untuk menggantungkan berbagai macam benda yang memiliiki hook penggantungan seperti lampu tenda ataupun menggantungkan apapun bila ditambah tali penggantung. Pada prinsipnya bisa diakali dengan simpul prusik atau sederhananya simpul jangkar dililitkan dua kali pada seutas tali tambahan yang pendek bila bentangan talinya sudah terlanjur direntangkan. Dengan menggunakan simpul prusik pun bisa lebih fleksibel dalam pengaturan posisinya, bahkan jika pada keadaan yang mengharuskan kita melakukan teknik logistik gantung simpul ini bisa menjadi sebuah solusi sederhana tanpa tambahan tali yang banyak.

• Munter hitch

  Munter hitch atau simpul italia juga dikenal dengan nama mezzo barciolo adalah simpul sederhana yang bisa disesuaikan, umumnya digunakan oleh para penjelajah gua pada saat caving ketika minimnya alat yang tersedia. Bisa digunakan untuk mengendalikan gesekan ketika digunakan menjadi belay device. Pada pendakian di medan curam pun simpul ini bisa digunakan sebagai alternatif di situasi darurat untuk rappeling ketika turun dengan kondisi minim alat. Prinspnya sederhana cukup lilitkan pada carabiner secara silang hingga mengunci tali yang terlilit oleh arah masuknya, alat yang diperlukan pun cukup tali dan carabiner berbentuk buah pir atau dikenal juga dengan nama HMS carabiner yang memiliki bentuk asimetris seperti buah pir dengan alas lebar dan bagian atas yang lebih kecil. Pada kondisi evakuasi darurat pun bisa digunakan untuk menurunkan barang ataupun korban di medan curam ketika tidak adanya belay device seperti figure eight ataupun autostop. Pada simpul ini ketika mengunci dapat dikatakan bisa menahan beban yang lumayan berat hingga 2,5kn pada penggunaan maksimalnya, tergantung pada jenis tali dan bahan dasar carabiner yang digunakan.

  Demikian beberapa seni tali-temali yang mungkin masih awam bagi sebagian pendaki yang bisa bermanfaat pada kondisi darurat atau kurang memadai dari segi alat. Bukan berarti dengan alat dan persiapan seadanya bisa melakukan suatu kegiatan yang kita bahas diatas, akan tetapi persiapan yang proper tetap menjadi prioritas utama apalagi pada pendakian yang memiliki kondisi ekstrim. Seni tali-temali menjadi dasar dan penyelamat dikala keadaan darurat namun, kembali lagi ke manajemen perjalanan yang harus dipersiapkan dengan matang mengingat mendaki gunung adalah salah satu olahraga ekstrim yang masih belum terlalu banyak orang yang aware terhadap hal ini. Semoga sedikit ilmu ini bisa membantu mengemban tanggung jawab yang tertaut pada setiap kegiatan sehingga akhir simpulannya dapat berakhir dengan sebagai mana mestinya

Rabu, 30 Juli 2025

Laporan Perjalanan Kegiatan Pendakian Puncak Junghuhn, Gunung Malabar

Tempat

Puncak Junghuhn, Gunung Malabar

 

Hari

Jumat – Minggu

Waktu

Tanggal

27 – 29 Juli 2025

 

Jam

17.00 - selesai

Biota

Kantong Semar, Pohon Kina, Pohon Arbei, Tumbuhan Paku-Pakuan, Edelweiss Jawa, Macan, Burung Elang Jawa, Lutung

Anggaran Biaya

Transportasi

2 unit angkot × 2 hari × Rp600.000,00 = Rp1.200.000.00

 

Simaksi

20 orang × Rp15.000,00 = Rp300.000,00

Cp Basecamp

 089528572691 (Hipadri)

Aturan yang berlaku

1. Dilarang membuang sampah sembarangan

2. Dilarang memburu atau menganggu satwa liar

3. Dilarang melewati jalur tanpa izin atau ilegal

Perjalanan Kegiatan

(Puncak Junghuhn Gunung Malabar)

 

      Puncak Junghuhn Malabar terletak di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Gunung ini merupakan bagian dari jajaran pegunungan Malabar yang terkenal dengan nilai sejarah dan keindahan alamnya. Dengan ketinggian sekitar 2.321 MDPL, gunung ini menawarkan jalur pendakian yang cukup menantang, terutama pada jalur yang terjal dan berbatu. 

       Berbeda dengan gunung pada umumnya, Gunung Malabar tidak hanya memiliki satu puncak, melainkan enam puncak berderet dan satu puncak besar. Pada kegiatan ekspedisi khusus kali ini, kami berencana mendaki seluruh enam puncak tersebut. Namun, ketika mencapai puncak ketiga, kondisi fisik, cuaca, dan keterbatasan waktu tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Oleh karena itu, pendakian hanya dilakukan hingga puncak ketiga sebelum akhirnya kami memutuskan kembali ke camping area. Pendakian ke Puncak Junghuhn Malabar ini dilaksanakan sebagai bentuk pengaplikasian ilmu dan keterampilan anggota Rattle Snake. Kegiatan ini diikuti oleh 20 anggota yang terdiri atas angkatan Pijar Kaldera dan Riuh Kina.

                             (dokumentasi di parkiran basecamp Junghuhn)

     Kami berkumpul di area papan panjat pada pukul 17.00 WIB untuk melakukan briefing dan persiapan. Perjalanan menuju Banjaran dimulai pukul 18.35 WIB dan berlangsung lancar hingga tiba di area parkir Basecamp Junghuhn pada pukul 20.53 WIB. Dari sana, kami melanjutkan perjalanan kaki sekitar 13 menit dan tiba di basecamp pukul 21.08 WIB. Setelah makan malam, kami beristirahat untuk persiapan pendakian esok hari.

                                 (dokumentasi di pos 1 Puncak Junghuhn)

     Keesokan harinya, pukul 03.30 WIB kami bangun dan bersiap. Kloter pertama memulai pendakian pukul 03.45 WIB, disusul kloter kedua lima belas menit kemudian. Karena masih gelap, penerangan hanya mengandalkan headlamp. Pukul 04.43 WIB, kloter pertama tiba di Pos 1 dan dilanjutkan kloter berikutnya. Di pos ini kami beristirahat sekaligus melaksanakan salat Subuh. Pendakian berlanjut pukul 05.20 WIB menuju Pos 2 dengan jalur yang lebih rimbun. Pukul 05.41 WIB kloter pertama tiba di Pos 2, disusul kloter kedua. Setelah istirahat singkat, perjalanan dilanjutkan pukul 06.55 WIB menuju Pos 3. Dalam perjalanan, kami melewati jalur air terjun untuk mengisi persediaan air. Jalur mulai menanjak terjal, ditandai dengan adanya webbing. Kloter pertama sempat tersesat, namun dapat kembali ke jalur berkat komunikasi melalui HT. Pukul 07.58 WIB, kloter pertama tiba di Pos 3, kemudian disusul kloter lainnya.

                                  (dokumentasi di pos 3 Puncak Junghuhn)


    Kami beristirahat terlebih dahulu di Pos 3 karena perjalanan cukup melelahkan, lalu melanjutkan pendakian pada pukul 08.00 WIB. Jalur dari Pos 3 menuju Pos 4 merupakan yang paling menantang dibandingkan jalur sebelumnya. Pada rute ini kami melewati aliran air terjun kembali, kemudian jalur menanjak curam yang dilanjutkan dengan medan terjal berbatu besar. Setelah melewati jalur berbatu, kami melalui jalur sempit dengan sisi kanan dan kiri langsung berbatasan dengan jurang tanpa penghalang pohon. Meskipun berbahaya, jalur tersebut juga menyajikan pemandangan indah yaitu Pegunungan Mega. Pada pukul 10.15 WIB, kami tiba di Pos 4 yang sekaligus menjadi area perkemahan.

                                    (dokumentasi di pos 4 Puncak Junghuhn)

    Di Pos 4, kami mendirikan tenda dan bivak sebagai tempat beristirahat. Setelah selesai, kami memakan bekal yang telah dibawa dari rumah sebelum melanjutkan pendakian menuju puncak-puncak Malabar. Pada pukul 13.00 WIB, kami berangkat menuju Puncak Malabar 1/Puncak Junghuhn dan tiba setelah menempuh perjalanan sekitar 50 menit. Setelah mendokumentasikan kegiatan di puncak, pukul 13.50 WIB kami melanjutkan perjalanan menuju Puncak Malabar 2.

                                       (dokumentasi di Puncak 2 Malabar)


    Jalur dari Puncak 1 menuju Puncak 2 cukup rimbun dan landai karena jarang dilalui pendaki. Kami berjalan beriringan tanpa dibagi kloter dan tiba di Puncak 2 Malabar pukul 14.41 WIB. Saat hendak menuju Puncak 3, salah satu dari kami tidak menemukan jalur pendakian dan justru mengarah ke arah jurang. Berdasarkan aplikasi peta di gawai, posisi kami sudah berada di Puncak 3, namun tidak ada papan penanda puncak disana. Karena kondisi fisik, cuaca, dan waktu tidak memungkinkan, kami memutuskan kembali ke camping area. Kami tiba pukul 16.21 WIB dan melanjutkan kegiatan memasak per kelompok.

                                            (dokumentasi ketika makan)

    Setelah memasak, kami makan malam bersama dan melaksanakan salat. Usai merapikan barang, kami masuk beristirahat karena energi hari itu terkuras akibat perjalanan dan jalur pendakian yang menantang. Keesokan harinya kamipun bangun di pagi hari untuk memasak, lalu sarapan bersama. Setelah itu, kami bersiap melakukan packing barang untuk perjalanan pulang. Pendakian turun dimulai pukul 07.45 WIB dengan kloter yang sama seperti saat naik. Perjalanan memakan waktu cukup lama mengingat jalur Junghuhn yang menantang sehingga kami harus lebih berhati-hati.

    Kami tiba di Basecamp Junghuhn pukul 12.32 WIB, karena letaknya dekat dengan mata air, beberapa orang dari kami menyempatkan diri membersihkan diri sambil menunggu angkot jemputan. Perjalanan dari Basecamp Junghuhn menuju papan panjat terasa singkat karena sebagian besar tertidur di dalam angkot. Kami tiba pukul 16.56 WIB, lalu langsung mengecek, membereskan, dan menyimpan perlengkapan kelompok di Basecamp Rattle Snake.

Dokumentasi



 

Pengalaman perjalanan oleh: Angkatan Pijar Kaldera dan Riuh Kina

Penulis: Hilwa `Dali`

Editor: Razzan `Peru`

Selasa, 24 Juni 2025

Laporan Explore Curug Aseupan

Tempat

Curug Aseupan

Waktu

Hari

Sabtu

Tanggal

13 September 2025

Jam

08.00 - Selesai

Anggaran Biaya

Transportasi

7 Unit Motor

 

Simaksi

- 14 x Rp20.000,00 = Rp280.000,00 (Simaksi Curug Tilu Leuwi Opat

- 11 x Rp10.000,00 = Rp110.000,00 (Simaksi Curug Aseupan)

Parkir

7 Motor x Rp2.000,00 = Rp14.000,00

Perjalanan Kegiatan

   Curug Aseupan terletak di kawasan wisata Curug Tilu Leuwi Opat, Kabupaten Bandung Barat. Pada pukul 08.00 WIB kami berkumpul di papan panjat Rattle Snake untuk sarapan bersama sambil menunggu yang lain datang. Tepat pukul 08.45 WIB, rombongan yang berjumlah 14 orang, terdiri dari 11 perempuan dan 3 laki-laki ( 5 DPH dan 9 orang umum) berangkat menuju Curug Aseupan. Kegiatan explore kali ini diikuti oleh mahasiswa baru TLM yang ingin menikmati keindahan curug bersama  Rattle Snake.

     Perjalanan menuju Curug Aseupan melewati jalur Curug Tilu Leuwi Opat. Saat memasuki gang menuju kawasan curug, kami membayar biaya sebesar Rp2.000,00 per motor. Jalan yang dilalui cukup berbatu, namun kami berhasil sampai di gerbang wisata untuk membayar tiket masuk sekaligus biaya parkir. Setelah memarkirkan motor, kami bersiap melakukan trekking. Sebelum memulai perjalanan, kami sempat menanyakan jalur kepada pengelola dan mendapatkan penjelasan yang cukup jelas.

     Trekking dimulai dengan menyusuri jalur yang landai, melewati dua curug terlebih dahulu. Di sepanjang perjalanan tersedia beberapa gazebo yang dapat digunakan untuk beristirahat maupun berkemah. Pemandangan alam yang tersaji sangat menakjubkan, termasuk leuwi dengan dinding batu serta jembatan yang kami lewati. Setelah kurang lebih 15 menit berjalan, kami tiba di Curug Kacapi yang saat itu sedang digunakan untuk kegiatan canyonering. Kami berhenti sejenak untuk menikmati keindahan curug tersebut, berfoto, sekaligus menyaksikan aktivitas canyonering yang cukup menarik.

     Karena tujuan utama kami adalah Curug Aseupan, perjalanan dilanjutkan dengan menaiki tangga menuju kawasan curug. Sebelum masuk, kami diwajibkan membayar biaya simaksi sebesar Rp10.000,00 per orang. Hanya para perempuan yang melanjutkan perjalanan, sementara tiga laki-laki menunggu di warung dekat Curug Kacapi. Setelah membayar simaksi, kami memasuki kawasan Curug Aseupan dengan hati-hati karena debit air cukup deras. Sesampainya di lokasi, kami langsung mengabadikan momen dengan berfoto. Tanpa terasa, hampir dua jam kami habiskan untuk menikmati suasana dan berfoto di sekitar curug, hingga akhirnya kami pun turun,

     Kami kemudian bergabung kembali dengan laki-laki yang menunggu di gazebo. Di sana, kami menyantap bekal sambil berbincang mengenai kehidupan kampus. Setelah dirasa cukup, kami bersiap pulang dan melakukan trekking kembali menuju area parkir selama kurang lebih 10 menit. Pukul 13.30 WIB kami meninggalkan lokasi dan tiba kembali di papan panjat sekitar pukul 14.15 WIB. Kami pun beristirahat sambil menikmati jajanan ringan serta berbagi cerita mengenai pengalaman menyenangkan saat explore Curug Aseupan kali ini.

Dokumentasi


 

Penulis: Hilwa “Dali”