Kamis, 30 Oktober 2025

Zoologi dalam Survival Activity pada Kegiatan Outdoor

Dalam kegiatan outdoor, kemampuan bertahan hidup di alam liar merupakan kompetensi dasar yang wajib dikuasai. Contoh situasi kritis yang mungkin dihadapi adalah tersesat di hutan dengan bekal makanan yang terbatas atau habis. Salah satu aspek penting dalam survival adalah kemampuan mencari sumber protein hewani yang aman untuk dikonsumsi. Pengetahuan zoologi dasar sangat membantu dalam mengidentifikasi hewan-hewan yang dapat dimakan dan menghindari yang beracun atau berbahaya. Dalam situasi darurat, memilih hewan yang tepat bisa menjadi perbedaan antara bertahan hidup atau mengalami keracunan yang justru memperburuk kondisi. 

Sebelum membahas jenis-jenis hewan spesifik, penting untuk memahami prinsip-prinsip dasar dalam memilih hewan yang aman dimakan, diantaranya ;
1. warna, hewan dengan warna cerah mencolok seperti merah terang, kuning menyala, oranye terang, atau kombinasi warna kontras biasanya merupakan sinyal peringatan alamiah bahwa hewan tersebut beracun atau berbahaya. 
2. perilaku, hindari hewan yang berperilaku tidak normal, terlihat sakit, lesu, atau terlalu jinak karena bisa terinfeksi penyakit seperti rabies.
3. habitat, hewan dari air mengalir jernih cenderung lebih aman daripada dari air tergenang yang kotor.

contoh-contoh zoologi yang dapat dimakan:
1. Ulat sagu 
Ulat sagu berasal dari batang pohon sagu yang membusuk. Mengandung protein dan lemak tinggi, sering dikonsumsi di Papua dan Maluku, baik mentah maupun digoreng.
2. Cacing tanah 
Mengandung protein tinggi dan asam amino esensial. Di beberapa daerah digunakan sebagai bahan makanan dan obat tradisional.
3. Keong
Dikenal juga sebagai keong mas, memiliki daging kenyal dan bergizi. Umumnya dimasak dengan bumbu pedas atau santan.
4. Katak 
Daging katak memiliki tekstur lembut dan kandungan protein tinggi. Banyak dikonsumsi di Asia sebagai sumber protein alternatif.
5. Belalang 
Mengandung protein, lemak sehat, dan mineral. Biasanya digoreng atau dipanggang sebagai camilan di beberapa negara tropis.
6. Jangkrik 
Kaya protein dan kalsium. Umum dijadikan makanan ringan tinggi gizi dengan cara digoreng atau dibuat tepung protein.
7. Larva lebah 
Mengandung protein, lemak, dan vitamin B kompleks. Sering dimakan di beberapa negara Asia sebagai makanan eksotis.
8. Semut 
Semut dan telurnya mengandung protein dan vitamin C. Banyak dikonsumsi di Thailand dan Laos, biasanya diolah menjadi sup atau sambal.

Hal terpenting dalam memilih hewan untuk dimakan adalah prinsip kehati-hatian dan selalu memasak makanan hingga matang sempurna. Jika ragu terhadap keamanan suatu hewan, lebih baik tidak mengonsumsinya. Amati perilaku hewan lokal-apa yang dimakan oleh primata atau burung pemakan daging biasanya aman untuk manusia. Hindari hewan yang sudah mati dalam kondisi tidak diketahui penyebabnya, reptil berbisa seperti ular tanpa pengetahuan memadai, serta hewan yang mengeluarkan busa atau cairan aneh saat disentuh. Dengan pengetahuan zoologi dasar dan prinsip kehati-hatian, Anda dapat meningkatkan peluang bertahan hidup saat tersesat di hutan sambil menunggu pertolongan datang.

Senin, 25 Agustus 2025

Simpul dan Ikatan: Seni Kecil di Balik Perjalanan Besar


  Tali-temali bukan sekedar mengikat dan menyimpul sebuah benda yang ingin dipikul namun, tali-temali mengikat tanggung jawab dan menyimpulkan hasil akhir yang nantinya akan menetukan masa depan yang akan muncul. Pada kali ini, kita akan membahas sebuah simpul yang sederhana namun berperan penting bagi keberlangsungan pada pendakian. Sebelum itu, mungkin sebagian besar dari kalian sudah tahu perbedaan simpul dan ikatan. Singkatnya simpul adalah hubungan antara tali dengan tali, sedangkan ikatan adalah hubungan antara tali dengan benda lain seperti kayu, tiang, atau bambu. Nah pembahasan kali ini kita akan berfokus pada beberapa simpul dan ikatan yang dianggap sepele namun bisa sangat berguna pada keadaan tertentu seperti misalnya clove hitch, cow hitch, overhand hitch atau yang lebih familiar kita sebut sebagai simpul jangkar, pangkal dan simpul hidup/mati. Pada pendakian umum biasanya sudah terdapat tali dengan autostop pada tenda yang mengadopsi cara kerja ikatan guyline yang bisa disesuaikan panjang pendeknya pada objek yang ditautkan. Pada beberapa kasus terdapat tidak sedikit benda-benda yang sudah sepaket dari tenda mulai hilang dan rusak sehingga mengharuskan kita untuk menggunakan cara manual dengan menggunakan berbagai seni tali-temali.

• Guyline/non-slip knot


  Simpul ini mempunyai banyak nama yang berbeda di setiap belahan dunia namun, pada umumnya disebut sebagai guyline/nonslip knot yang berfungsi sebagai pengikat yang menautkan antara benda yang ingin diikat ke benda lain sebagai tumpuan. Prinsip sederhananya adalah benda tumpuannya bisa menahan benda yang ingin ditumpu dengan menyesuaikan panjang jauhnya tali secara sederhana dengan menarik simpul pengunci supaya tidak slip atau tergelincir ke posisi semula. Caranya sederhana, tautkan tali pada benda tumpuan lalu lilitkan tali ke arah tali masuk sebanyak yang dibutuhkan, umumnya sebanyak 3-5 lilitan. Diakhiri dengan tali mati atau hidup untuk mempermudah pembongkaran simpul. Umumnya ditautkan antara layer luar tenda ke patok yang ditancapkan atau bisa juga ke ranting pepohonan yang kuat menahan beban, bisa juga dalam pengaplikasian pembuatan bivak dengan flysheet yang mengharuskan mengikat ujung flysheetke pepohonan sekitar. Simpul inilah yang akhirnya diadopsi prinsipnya oleh berbagai produsen tenda untuk menciptakan autostop pada perusik yang tersedia pada tautan tenda.

• Simpul nelayan


  Umumnya digunakan oleh para nelayan di lautan untuk mengikat ujung tali ke ujung tali lainnya, dengan kata lain menyambungkan dua tali yang berbeda untuk menambah panjang tali. Ada berbagai jenis versi dalam penggabungan tali ini, bisa dengan simpul tali mati secara langsung bersamaan pada dua tali, bahkan bisa juga memperpendek dengan mengikat lilitan yang banyak untuk membagi panjang tali. Yang paling umum digunakan oleh nelayan adalah dengan mengikat ujung tali ke tali yang ingin digabung dan begitu juga sebaliknya, bisa sangat berguna dan efisien ketika dalam kondisi basah yang mudah tergelincir ataupun pada keadaan beda ukuran tali. Nah, pada pendakian yang umumnya memakai perusik dengan bentuk bulat seperti tali yang digunakan oleh para nelayan juga bisa diaplikasikan dengan cara yang sama. Bahkan dianggap lebih kuat bagi kebutuhan yang memerlukan ketahanan memikul beban berat.

• Alpine butterfly knot


  Mungkin lebih umum kita kenal sebagai simpul kupu-kupu, adalah simpul yang berfungsi untuk memberikan suatu untai lingkaran pada bentangan tali yang bisa dimanfaatkan untuk menggantungkan berbagai macam benda yang memiliiki hook penggantungan seperti lampu tenda ataupun menggantungkan apapun bila ditambah tali penggantung. Pada prinsipnya bisa diakali dengan simpul prusik atau sederhananya simpul jangkar dililitkan dua kali pada seutas tali tambahan yang pendek bila bentangan talinya sudah terlanjur direntangkan. Dengan menggunakan simpul prusik pun bisa lebih fleksibel dalam pengaturan posisinya, bahkan jika pada keadaan yang mengharuskan kita melakukan teknik logistik gantung simpul ini bisa menjadi sebuah solusi sederhana tanpa tambahan tali yang banyak.

• Munter hitch

  Munter hitch atau simpul italia juga dikenal dengan nama mezzo barciolo adalah simpul sederhana yang bisa disesuaikan, umumnya digunakan oleh para penjelajah gua pada saat caving ketika minimnya alat yang tersedia. Bisa digunakan untuk mengendalikan gesekan ketika digunakan menjadi belay device. Pada pendakian di medan curam pun simpul ini bisa digunakan sebagai alternatif di situasi darurat untuk rappeling ketika turun dengan kondisi minim alat. Prinspnya sederhana cukup lilitkan pada carabiner secara silang hingga mengunci tali yang terlilit oleh arah masuknya, alat yang diperlukan pun cukup tali dan carabiner berbentuk buah pir atau dikenal juga dengan nama HMS carabiner yang memiliki bentuk asimetris seperti buah pir dengan alas lebar dan bagian atas yang lebih kecil. Pada kondisi evakuasi darurat pun bisa digunakan untuk menurunkan barang ataupun korban di medan curam ketika tidak adanya belay device seperti figure eight ataupun autostop. Pada simpul ini ketika mengunci dapat dikatakan bisa menahan beban yang lumayan berat hingga 2,5kn pada penggunaan maksimalnya, tergantung pada jenis tali dan bahan dasar carabiner yang digunakan.

  Demikian beberapa seni tali-temali yang mungkin masih awam bagi sebagian pendaki yang bisa bermanfaat pada kondisi darurat atau kurang memadai dari segi alat. Bukan berarti dengan alat dan persiapan seadanya bisa melakukan suatu kegiatan yang kita bahas diatas, akan tetapi persiapan yang proper tetap menjadi prioritas utama apalagi pada pendakian yang memiliki kondisi ekstrim. Seni tali-temali menjadi dasar dan penyelamat dikala keadaan darurat namun, kembali lagi ke manajemen perjalanan yang harus dipersiapkan dengan matang mengingat mendaki gunung adalah salah satu olahraga ekstrim yang masih belum terlalu banyak orang yang aware terhadap hal ini. Semoga sedikit ilmu ini bisa membantu mengemban tanggung jawab yang tertaut pada setiap kegiatan sehingga akhir simpulannya dapat berakhir dengan sebagai mana mestinya

Sabtu, 31 Mei 2025

Pentingnya Manajemen Perjalanan Dalam Pendakian

Fungsi utama dari manajemen perjalanan pendakian ini adalah mengatur segala aspek yang berkaitan dengan perjalanan, mulai dari perencanaan biaya, perbekalan makanan, perlengkapan yang sesuai dengan medan dan cuaca, hingga kesiapan fisik pendaki. Selain itu, manajemen juga mencakup antisipasi terhadap risiko terburuk, seperti ketersediaan obat-obatan, alat komunikasi, serta penguasaan teknik bertahan hidup (survival), navigasi darat, pertolongan pertama gawat darurat (PPGD), dan sebagainya. Aspek lainnya yang tidak kalah penting adalah pengelolaan transportasi, perizinan, dan kebutuhan administratif lainnya.

Tahapan manajemen perjalanan ini dapat dibagi menjadi 3 tahapan, yaitu: 
1. Tahap persiapan
Langkah yang pertama adalah penentuan tujuan. Tujuan di sini terdapat dua bagian, yaitu tujuan umum (general goal) dan tujuan khusus (specific goal). Tujuan umum adalah tujuan perjalanan kita akan kemana. Selanjut nya ketika kita sudah memiliki tujuan, kita juga harus memikirkan tujuan cadangan. Yang gunanya ketika tujuan awal kita tidak bisa dilakukan dengan berbagai alasan. Selesai kita menentukan tujuan pendakian langkah berikutnya adalah memikirkan lama waktu perjalanan. Selanjutnya kita harus menginventarisir segala kebutuhan untuk perjalanan pendakian kali ini. Beberapa diantaranya adalah : 
- Team 
- Peralatan 
- Logistik atau konsumsi
- Obat-obatan
- Administrasi 
- Transportasi 
- Pembiayaan

2. Tahap pelaksanaan
 Tahap pelaksanaan dilakukan jika tahap persiapan sudah selesai. Tahap pelaksanaan adalah wujud dari realisasi tahap perencanaan. Segala yang sudah kita rencanakan secara matang kita laksanakan sesuai dengan prosedur yang kita buat. Dalam pelaksanaan perjalanan, jangan sekalipun melanggar apa yang sudah kita rencanakan. Kita bisa membuat aturan untuk diri kita sendiri, belajar disiplin dari diri kita sendiri. Lakukan perjalanan hanya sesuai dengan apa yang sudah direncanakan. Kecuali jika kondisi alam di lapangan menuntut yang berbeda.  Salah satu fungsi persiapan adalah untuk membuat prediksi-prediksi perubahan kondisi dimana kita harus membuat rencana cadangan untuk menghadapinya. Jika kita melakukan perjalanan yang sudah terencana dengan baik dan disiplin sesuai dengan perencanaan, maka tujuan perjalanan kita akan dengan mudah kita capai.

3. Tahap evaluasi
Tahap evaluasi dilakukan ketika perjalanan sudah selesai. Evaluasi bersifat sangat penting karena bisa digunakan untuk mengetahui segala kendala yang terjadi selama perjalanan dan digunakan untuk antisipasi pada perjalanan berikutnya. Dalam setiap aktifitas seharusnya ada pembelajaran. Pembelajaran bermanfaat untuk proses pendewasaan diri dan untuk memperbaiki aktifitas-aktifitas kita selanjutnya. Begitu pula dengan perjalanan pendakian.

Kegiatan mendaki gunung adalah aktivitas yang berisiko tinggi. Banyak insiden kecelakaan yang terjadi di kegiatan tersebut, bahkan ada yang memakan korban. Kita sebagai manusia yang diberikan akal dan nalar harus mampu belajar dan mengantisipasi dengan bijak segala kemungkinan buruk saat mendaki.

Rabu, 23 April 2025

Keselamatan di Gunung: Teknik Dasar pendakian yang wajib Diketahui

Mountaineering merupakan kegiatan alam bebas salah satunya pendakian dengan berbagai tantangan medan. Tujuannya bukan hanya mencapai puncak, tetapi juga kembali dengan selamat. Berikut teknik dan persiapan dasar yang wajib diketahui: 

1. Teknik Dasar Keselamatan

– Self-Arrest Digunakan saat tergelincir di jalur curam atau licin. Gunakan tangan, lutut, atau trekking pole untuk menghentikan laju jatuh. Umum diterapkan di gunung seperti Merapi atau Semeru.

– Crevasse Rescue Lokal Meski tak ada es, teknik ini berguna saat rekan jatuh ke jurang kecil atau parit. Gunakan tali, simpul, atau alat bantu untuk mengevakuasi korban—sering diterapkan di Gunung Salak atau Lawu.

– Self-Rescue Kemampuan bertahan saat terpisah dari tim atau terluka ringan. Termasuk membuat bivak darurat, mencari sumber air, dan menggunakan peluit untuk meminta bantuan.

2. Persiapan Sebelum Pendakian

– Fisik dan Mental

Hiking bukan hanya soal kekuatan fisik, tapi juga kesiapan mental. Latih fisik dengan jogging atau jalan kaki secara rutin sebelum mendaki. Selain itu, siapkan mental untuk menghadapi kondisi cuaca ekstrem, jalur terjal, atau kemungkinan tersesat.

– Riset Gunung dan Jalur Pendakian

Cari tau tingkat kesulitan, kondisi cuaca, estimasi waktu pendakian, dan titik-titik penting seperti sumber air atau pos

peristirahatan. Informasi ini akan membantu dalam menyusun

strategi perjalanan dan meminimalisir risiko.

– Gunakan Perlengkapan yang Tepat

Keselamatan juga bergantung pada perlengkapan yang digunakan. Manajemen Waktu dan Energi Jangan terlalu memaksakan diri untuk cepat sampai ke puncak. Jaga ritme pendakian, istirahat secara berkala, dan pastikan tubuh tetap terhidrasi. Ambil satu langkah ke depan saat Anda menarik napas dan langkah lain saat Anda menghembuskan napas. Jika

ada lereng yang curam, naik satu langkah ke atas bernapas 2-3 kali lalu ambil langkah lain.

Beberapa barang yang wajib dibawa antara lain:

1. Sepatu gunung dengan grip yang baik

2. Jaket tahan air dan dingin

3. Headlamp atau senter

4. P3K

5. Peralatan Navigasi

6. Makanan dan air yang cukup

7. Peralatan Survival dsb

– Manajemen Waktu dan Energi

Jangan terlalu memaksakan diri untuk cepat sampai ke puncak. Jaga ritme pendakian, istirahat secara berkala, dan pastikan tubuh tetap terhidrasi. Ambil satu langkah ke depan saat Anda menarik

napas dan langkah lain saat Anda menghembuskan napas. Jika

ada lereng yang curam, naik satu langkah ke atas bernapas 2-3 kali lalu ambil langkah lain.

3. Patuhi Etika dan Peraturan Gunung

Gunung bukan tempat untuk uji nyali atau adu keberanian. Hormati alam, jangan buang sampah sembarangan, dan ikuti semua aturan yang berlaku di area pendakian.

Keselamatan adalah pondasi utama dalam setiap pendakian. Menguasai teknik dasar seperti self-arrest dan self-rescue, mempersiapkan fisik dan perlengkapan, serta memahami jalur pendakian adalah langkah krusial untuk meminimalisir risiko. Jangan abaikan etika dan peraturan gunung karena tujuan sejati bukan hanya mencapai puncak, tapi juga kembali dengan selamat.

Jumat, 28 Februari 2025

MEMBUAT KOMPAS DARURAT DENGAN BAHAN SEDERHANA


Kompas merupakan salah satu komponen utama dalam sebuah pendakian. Dengan menggunakan Kompas, arah pendakian dapat dituju dengan jelas. Namun, tidak dapat dipungkiri apabila pada saat pendakian tidak membawa atau kehilangan kompas. Untuk mengatasi hal tersebut, membuat kompas darurat dengan bahan-bahan sederhana dapat sangat berguna dalam situasi survival. 

Bahan-bahan yang dibutuhkan:
1. Jarum atau benda logam kecil (seperti jarum jahit atau klip kertas)
2. Magnet/peralatan yang terbuat dari besi, bisa menggunakan magnet dari barang-barang yang ada di sekitar contohnya pisau survival
3. Mangkuk kecil/nesting untuk menampung air
4. Air (secukupnya)
5. Selembar kain atau kapas (untuk mengeringkan)
6. Kertas, kayu, atau daun (untuk tempat meletakkan jarum)

Berikut adalah langkah-langkah untuk membuat kompas darurat:
1. Magnetisasi Jarum
   - Ambil jarum atau benda logam kecil.
   - Gosokkan magnet/peralatan yang terbuat dari besi ke jarum dalam satu arah (sekitar 30-50 kali). Ini akan membuat jarum tersebut menjadi magnetik.

2. Menyediakan Permukaan/Genangan Air
Isi mangkuk atau nesting dengan air cukup untuk merendam bagian bawah jarum.

3. Membuat Permukaan Terapung
Ambil selembar kertas kecil, kayu kecil,  atau daun dan letakkan di atas air. Komponen ini akan bertindak sebagai dasar tempat jarum akan mengapung.
   
4. Menempatkan Jarum:
Letakkan jarum yang sudah dimagnetisasi dengan hati-hati di atas permukaan kertas, kayu, atau daun. Jarum ini akan terbalik dan mengarah ke arah utara-selatan karena sifat magnetiknya.

5. Melihat Arah Kompas:
 Jarum akan mengarah ke utara-selatan (tergantung pada kutub magnet jarum).

Jika memungkinkan, coba buat kompas darurat ini di tempat yang minim gangguan medan magnet kuat (seperti di dekat alat elektronik besar atau benda logam). Kompas Darurat ini juga tidak seakurat kompas profesional, tetapi dapat membantu dalam keadaan darurat. Dengan cara ini, Anda dapat membuat alat penunjuk arah yang sederhana namun efektif serta bisa menentukan Arah Kiblat ketika Anda tidak membawa kompas bidik ataupun kompas orientasi ya Ratts!