Kita pernah lahir dengan tangis dan keringat yang sama, kita yang dibesarkan oleh pengalaman, kita yang ditempa oleh kesulitan, dan kita yang disatukan oleh tujuan. Dalam kesederhanaan dan keterbatasan, kita masih memiliki kekayaan persaudaraan. Kau tak perlu takut, kau hanya cukup katakan, "Yang kita butuhkan darah, keringat dan air mata untuk selalu bersama".
Minggu, 14 Desember 2025
Cara Melakukan Orientasi Medan
Rabu, 10 Desember 2025
Laporan Perjalanan Kegiatan Pendakian Gunung Papandayan
Tempat | Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat | ||||||
Hari | Sabtu – Minggu | ||||||
Waktu | Tanggal | 29 – 30 November 2025 | |||||
Jam | 06.00 - selesai | ||||||
Biota | Babi Hutan, Macan Tutul, Lutung, Elang Jawa, Burung Walik, Burung Kutilang, Edelweis, Puspa, Jamuju, Manglid. | ||||||
Anggaran Biaya | Transportasi | 1 unit elf × 2 hari × Rp1.600.000,00= Rp3.200.000.00 | |||||
Simaksi | 33 orang × Rp58.000,00 (harga pelajar)= Rp1.914.000,00 | ||||||
Cp Basecamp | 082124589648 (Kang Mulyana) | ||||||
Aturan yang berlaku | 1. Dilarang keras membuang sampah sembarangan, wajib bawa turun sampah. 2. Dilarang mencabut bunga (edelweis) atau mengganggu flora/fauna. 3. Dilarang memotong jalur pendakian, jangan bicara kasar/tidak sopan di area sakral. 4. Hindari mendaki saat cuaca buruk, gunakan sepatu anti-selip, siapkan logistik yang cukup. | ||||||
Perjalanan Kegiatan |
Gunung Papandayan terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Gunung ini merupakan salah satu gunung api yang terkenal dengan keindahan alamnya yang khas, seperti kawasan hutan mati dan kawah belerangnya. Dengan ketinggian sekitar 2.665 MDPL, Gunung Papandayan menawarkan jalur pendakian yang relatif ramah bagi pendaki, namun tetap memiliki tantangan tersendiri, terutama pada jalur berupa tangga dan bebatuan yang mengharuskan kewaspadaan yang ekstra. Selain memiliki daya tarik alam, Gunung Papandayan juga memiliki nilai historis karena menjadi lokasi didirikannya Rattle Snake pada tanggal 25 April 1998. Pada kegiatan Open Trip Rattle Snake 2025, destinasi yang dituju adalah Gunung Papandayan yang berlokasi di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Kegiatan ini diikuti oleh 22 orang Dewan Pengurus Harian, 5 Anggota Muda, serta 6 peserta umum. Sebagian panitia pendahulu berangkat menuju Garut pada hari Jumat menggunakan sepeda motor guna melakukan persiapan kegiatan Open Trip. Sementara itu, panitia lainnya mendampingi peserta menggunakan kendaraan elf yang berangkat pada hari Sabtu, 29 November 2025, pukul 08.00 WIB. Waktu tempuh perjalanan sekitar tiga setengah jam, dipengaruhi oleh kondisi lalu lintas yang cukup padat di wilayah Garut mengingat perjalanan dilakukan pada akhir pekan. Setibanya di area parkir TWA Gunung Papandayan, seluruh peserta dan panitia menurunkan perlengkapan, kemudian melaksanakan istirahat, shalat, dan makan (ISHOMA) sebelum memulai kegiatan pendakian. (Dokumentasi bersama sebelum memulai pendakian) Setelah melaksanakan ISHOMA pada pukul 12.50 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan persiapan pendakian yang meliputi pemanasan dan doa bersama. Selanjutnya, peserta memulai perjalanan dari area parkiran (Pos 3) menuju Pos 5 dengan waktu tempuh sekitar 10 menit melalui jalur yang masih beraspal dan mulai didominasi oleh tangga bebatuan. Setibanya di Pos 5, peserta beristirahat selama kurang lebih 5 menit sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pos 6 dengan durasi sekitar 40 menit. Pada jalur ini, medan berupa tangga dan bebatuan semakin terasa sehingga membutuhkan kewaspadaan ekstra. Sesampainya di Pos 6, peserta beristirahat di area gazebo dan sebagian peserta memanfaatkan waktu untuk berfoto. Pos 6 merupakan kawasan kawah dengan bau belerang yang cukup menyengat. Karena cuaca yang semakin terik serta aroma belerang yang kuat, perjalanan dilanjutkan menuju Pos 7 dengan waktu tempuh sekitar 40 menit. Jalur menuju Pos 7 memiliki elevasi yang mulai menanjak sehingga cukup menguras tenaga. Di Pos 7 terdapat fasilitas berupa warung dan toilet yang dimanfaatkan peserta untuk beristirahat. Sambil menunggu peserta yang masih tertinggal, kami beristirahat cukup lama di Pos 7 akibat kondisi cuaca yang panas. Setelah seluruh peserta berkumpul dan beristirahat, perjalanan dilanjutkan menuju area camp di Pondok Saladah dengan waktu tempuh sekitar satu jam setengah melalui jalur yang cukup menantang. Peserta pun tiba di Area Camp Pondok Saladah sekitar pukul 15.50 WIB dan disambut dengan minuman segar yang telah disiapkan oleh panitia. Secara keseluruhan, total waktu perjalanan dari area parkiran hingga Camp Pondok Saladah adalah kurang lebih 2 jam 20 menit. ( Dokumentasi kegiatan bebas) Kami beristirahat di tenda masing-masing dan melaksanakan salat Asar. Pada pukul 16.25 WIB, peserta berkumpul di depan tenda untuk berbincang dan bermain kartu. Kegiatan sunset di Hutan Mati ditiadakan karena cuaca gerimis dan berkabut, sehingga digantikan dengan sesi foto di area hamparan edelweiss sekitar area camp. Menjelang magrib, peserta melaksanakan salat dan makan malam bersama. Pada pukul 19.45 WIB, kegiatan bermain kartu dilanjutkan, sementara sebagian panitia memasak dan sebagian lainnya mendampingi peserta. Saat kegiatan berlangsung, terlihat seekor babi hutan melintas di sekitar tenda, yang menimbulkan rasa kaget. Kegiatan ditutup dengan istirahat pada pukul 21.15 WIB. Sebagai langkah antisipasi, seluruh bahan konsumsi dan barang bawaan yang berpotensi menarik babi hutan dikumpulkan dan digantung di pohon sebelum beristirahat. (Dokumentasi sunrise di Hutan Mati) Pada pukul 04.30 WIB, sebagian peserta dan panitia bangun untuk bersih-bersih, melaksanakan salat Subuh, dan bersiap untuk kegiatan sunrise. Rencana awal sunrise di Ghoberhoet diubah ke Hutan Mati berdasarkan saran warga setempat. Pada pukul 05.15 WIB, peserta berangkat menuju Hutan Mati dengan waktu tempuh sekitar 15 menit dari area camp. Setibanya di Hutan Mati, peserta menikmati sunrise meskipun sebagian pemandangan terhalang kabut, kemudian melakukan sesi foto dan membuat konten hingga pukul 07.00 WIB. Selanjutnya, peserta kembali ke area camp untuk sarapan yang disediakan panitia konsumsi, kemudian dilanjutkan dengan kgiatan bebas dan persiapan pulang . Pada pukul 09.45 WIB, kami bersiap turun melewati Hutan Mati terlebih dahulu untuk dokumentasi bersama hingga pukul 11.30 WIB. Setelah itu, peseta turun menuju area parkiran dan tiba pada pukul 13.15 WIB. Karena waktu kedatangan lebih cepat dari yang direncanakan, peserta beristirahat di gazebo hingga pukul 14.00 WIB sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya, yaitu pemandian air panas. (Dokumentasi di Tepas Papandayan) Pada pukul 14.00 WIB, seluruh barang-barang peserta dan panitia dimasukkan ke dalam kendaraan elf dan kami melanjutkan perjalanan menuju pemandian air panas. Meskipun tiba pada siang hari, kondisi pemandian cukup ramai. Setibanya di pemandian air panas, peserta berganti pakaian dan berendam di kolam air panas untuk melepas lelah, yang memberikan efek rileks dan menenangkan. Kegiatan berendam berlangsung hingga pukul 17.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan mandi dan persiapan pulang. Pada pukul 17.11 WIB, kami berangkat kembali menuju Cimahi dalam kondisi hujan deras. Perjalanan sempat singgah di pusat oleh-oleh pada pukul 19.00 WIB untuk membeli buah tangan bagi keluarga. Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan dan tiba di kampus pada pukul 21.20 WIB. Setibanya di kampus, seluruh barang-barang diturunkan dan kegiatan Open Trip Rattle Snake 2025 secara resmi ditutup oleh Ketua Pelaksana. | ||||||
Dokumentasi | |||||||
Penulis: Hilwa ‘Dali'
Editor: Razzan ‘Peru’
Kamis, 30 Oktober 2025
Zoologi dalam Survival Activity pada Kegiatan Outdoor
Senin, 25 Agustus 2025
Simpul dan Ikatan: Seni Kecil di Balik Perjalanan Besar
Rabu, 30 Juli 2025
Laporan Perjalanan Kegiatan Pendakian Puncak Junghuhn, Gunung Malabar
Pengalaman perjalanan oleh: Angkatan Pijar Kaldera dan Riuh Kina
Penulis: Hilwa `Dali`
Editor: Razzan `Peru`
Selasa, 24 Juni 2025
Laporan Explore Curug Aseupan
Tempat | Curug Aseupan | |
Waktu | Hari | Sabtu |
Tanggal | 13 September 2025 | |
Jam | 08.00 - Selesai | |
Anggaran Biaya | Transportasi | 7 Unit Motor |
Simaksi | - 14 x Rp20.000,00 = Rp280.000,00 (Simaksi Curug Tilu Leuwi Opat - 11 x Rp10.000,00 = Rp110.000,00 (Simaksi Curug Aseupan) | |
Parkir | 7 Motor x Rp2.000,00 = Rp14.000,00 | |
Perjalanan Kegiatan | Curug Aseupan terletak di kawasan wisata Curug Tilu Leuwi Opat, Kabupaten Bandung Barat. Pada pukul 08.00 WIB kami berkumpul di papan panjat Rattle Snake untuk sarapan bersama sambil menunggu yang lain datang. Tepat pukul 08.45 WIB, rombongan yang berjumlah 14 orang, terdiri dari 11 perempuan dan 3 laki-laki ( 5 DPH dan 9 orang umum) berangkat menuju Curug Aseupan. Kegiatan explore kali ini diikuti oleh mahasiswa baru TLM yang ingin menikmati keindahan curug bersama Rattle Snake. Perjalanan menuju Curug Aseupan melewati jalur Curug Tilu Leuwi Opat. Saat memasuki gang menuju kawasan curug, kami membayar biaya sebesar Rp2.000,00 per motor. Jalan yang dilalui cukup berbatu, namun kami berhasil sampai di gerbang wisata untuk membayar tiket masuk sekaligus biaya parkir. Setelah memarkirkan motor, kami bersiap melakukan trekking. Sebelum memulai perjalanan, kami sempat menanyakan jalur kepada pengelola dan mendapatkan penjelasan yang cukup jelas. Trekking dimulai dengan menyusuri jalur yang landai, melewati dua curug terlebih dahulu. Di sepanjang perjalanan tersedia beberapa gazebo yang dapat digunakan untuk beristirahat maupun berkemah. Pemandangan alam yang tersaji sangat menakjubkan, termasuk leuwi dengan dinding batu serta jembatan yang kami lewati. Setelah kurang lebih 15 menit berjalan, kami tiba di Curug Kacapi yang saat itu sedang digunakan untuk kegiatan canyonering. Kami berhenti sejenak untuk menikmati keindahan curug tersebut, berfoto, sekaligus menyaksikan aktivitas canyonering yang cukup menarik. Karena tujuan utama kami adalah Curug Aseupan, perjalanan dilanjutkan dengan menaiki tangga menuju kawasan curug. Sebelum masuk, kami diwajibkan membayar biaya simaksi sebesar Rp10.000,00 per orang. Hanya para perempuan yang melanjutkan perjalanan, sementara tiga laki-laki menunggu di warung dekat Curug Kacapi. Setelah membayar simaksi, kami memasuki kawasan Curug Aseupan dengan hati-hati karena debit air cukup deras. Sesampainya di lokasi, kami langsung mengabadikan momen dengan berfoto. Tanpa terasa, hampir dua jam kami habiskan untuk menikmati suasana dan berfoto di sekitar curug, hingga akhirnya kami pun turun, Kami kemudian bergabung kembali dengan laki-laki yang menunggu di gazebo. Di sana, kami menyantap bekal sambil berbincang mengenai kehidupan kampus. Setelah dirasa cukup, kami bersiap pulang dan melakukan trekking kembali menuju area parkir selama kurang lebih 10 menit. Pukul 13.30 WIB kami meninggalkan lokasi dan tiba kembali di papan panjat sekitar pukul 14.15 WIB. Kami pun beristirahat sambil menikmati jajanan ringan serta berbagi cerita mengenai pengalaman menyenangkan saat explore Curug Aseupan kali ini. | |
Dokumentasi | ||
Penulis: Hilwa “Dali”
Senin, 16 Juni 2025
Laporan Explore Curug Dago
Tempat | Curug Dago | |
Waktu | Hari | Sabtu |
Tanggal | 27 Januari 2024 | |
Jam | 09.00 - Selesai | |
Anggaran Biaya | Transportasi | 3 unit motor |
Simaksi | 6 orang x Rp5.000,00 = Rp30.000,00 | |
Parkir | 3 motor x Rp5.000,00 = Rp15.000,00 | |
Perjalanan Kegiatan |
Curug Dago berlokasi di Desa Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Lokasi Curug Dago memang cukup tersembunyi karena berada di daerah Bukit Dago dalam kawasan Taman Hutan Raya di Jalan Ir H Djuanda. Simaksi untuk mengunjungi Curug Dago sebesar Rp5.000,00/orang dan parkir kendaraan dapat di warung sebelum menuju Curug Dago dengan biaya Rp5.000,00/motor. Fasilitas di Curug Dago sudah memadai dengan adanya tempat duduk, warung, toilet yang berada di dekat warung, dan pagar pembatas di area curug. Awal titik kumpul kami yaitu di Masjid Istiqlal yang bertempat di jl. Babakan Loa dan estimasi waktu yang dibutuhkan untuk sampai di Curug Dago sekitar 1 jam perjalanan. Akses yang dilalui tidak dapat dilewati oleh mobil dikarenakan harus melalui gang terlebih dahulu. Setelah sampai kami harus membayar simaksi kepada Bapak pengelola Curug Dago dan biaya parkir kendaraan ke warung. Kemudian untuk mencapai tepat di Curug Dago kami tracking selama 5 menit dengan kondisi track yang sudah bagus disertai anak tangga yang mengarah untuk turun. | |
Sesampainya di curug akan disambut dengan peninggalan Sultan Thailand pada zaman dahulu yaitu sebuah kuil dan batu besar di dalamnya. Air yang dimiliki Curug Dago akan terlihat kurang indah saat musim hujan karena akan berwarna coklat, tetapi saat pagi akan terlihat berwarna biru dan bersih. Aura di curug ini agak menyeramkan karena biasanya dipakai untuk persembahan, namun alamnya masih asri dan dapat dinikmati oleh pengunjung. Curug Dago ramai saat di pagi hari dengan pengunjung yang suka bersepeda. | |
Dokumentasi |
Penulis : Ghazi “Ala”
Editor : Aca “Skupi”